Bualan kosong yang tidak berarti. Pengandaian. Permaknaan. Perumpamaan. Ketidak-jelasan. Ketidak-pastian. Berakhir dengan pernyataan ataupun pertanyaan (di dalam hati).
Sabtu, 20 Juni 2020
Ugly Duckling
Sabtu, 13 November 2010
Campuran Kopi Susu
Masih tentang sahabat yang sama, deuh, kok belakangan ini tingkahnya semakin mengerikan. Hahaha. Jarang-jarang loh saya memgeluh :p Bagaimana rasanya menjadi orang ketiga yang harus menyaksikan kejadian ini?
Minggu pagi yang cerah, kebetulan kami bertiga berjalan melewati sebuah kedai kopi ternama.
"Gua ga suka kopi di sini. Pasaran." Keluh seorang sahabat, sebut saja A, seketika kita menghirup harumnya kopi yang menyeruak dari dalam kedai.
"Pasaran kenapa?" Berhubung baru-baru ini saya tergila-gila dengan kopi, otomatis saya bertanya.
"Gua ga suka rasanya, kombinasi pahitnya kopi dan susunya ga balance." Si A menjelaskan dengan ketus.
"Menurut gua itu selera masing-masing." Sahabat saya yang satu lagi, sebut saja B menyahut dengan kalem sambil berlalu masuk ke kedai kopi itu.
Kamipun memesan minuman yang kami inginkan, saya dengan segelas cappuccino dan B dengan segelas espresso panasnya. Bagaimana dengan A? Mungkin karena 'pasaran' (busyet deh, kopi segelas 30 rebu dibilang pasaran) A pun tidak memesan apa-apa.
"Ga mesen apa-apa A?" B bertanya di tengah kesibukannya meniup dan menyesap espresso panasnya.
"Ga deh. Kebanyakan minum kopi bikin gua deg-degan." A pun mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
"Oh.." Jawab B singkat. Sayapun bingung, kok A tidak tergoda dengan semerbak-harumnya kopi yang kami minum yah?
"B, kok elo bisa sih minum espresso yang pahit gituh? Kaya minum jamu aja. Hahaha." Sebenarnya kebiasaan B ini yang lebih membuat saya penasaran. Dibanding kebiasaan-kebiasaan A yang selalu mengkomentari apapun, B selalu diam dan termenung, dia hanya akan menjawab kalau ditanya.
"Hem, justru itu enaknya Dev. Kadang gua juga minum cappuccino atau yang lainnya kok. Cuma kadang gua butuh sentakan dari pahitnya kopi dan aroma kopi itu sendiri, tanpa tambahan susu atau yang lain." B pun tersenyum sambil menghirup aroma kopinya.
"Coba deh Dev.." B mendekatkan cangkir kecilnya ke hadapan saya.
"Baunya enak. Hahaha." Jawaban klise buat penggemar kopi jadi-jadian seperti saya.
Kamipun melanjutkan acara jalan-jalan kami. Kali ini kami melewati sebuah toko sepatu olahraga ternama. B pun berhenti sejenak untuk mengamati sepatu-sepatu yang terpajang di etalase, tertera tulisan SALE (up to) 70%!
"Sori, gua masuk dulu yah." B meminta ijin kepada kami.
"Oh okeh, gua juga mau liat-liat." Sayapun mengikuti B masuk.
"Ah, sama aja. Mau diskon mau engga, harganya ga beda jauh kalau kita beli di Indo." Dengan sinisnya A berkomentar, dengan terpaksa dia mengikuti kami masuk.
"Lumayanlah A, jarang-jarang ada diskon untuk keluaran baru. Walaupun 10-20 persen kalau dikurs bedanya nyaris dua ratus ribu dan belum tentu di Indo ada." B tersenyum sambil mengambil sepasang sepatu dari etalase. Ketika B membalik sepatu dan melihat tag harganya, sayapun ikutan mengintip. Huks. ¥890 (nyaris 1,2 juta rupiah!).
"Alah, dua ratus, tiga ratus ribu mah ga masalah. Itung-itung ongkos kirim." Deuh A, kalau ngomong mbok yah lihat-lihat sekeliling. Dua ratus ribu bisa untuk makan sebulan itu.
Si B pun membeli sepasang sepatu dari toko itu. Setahu saya, B memang 'penggemar' berat merk ternama itu. Beberapa kali saya melihat B memakai model yang berbeda dari 'brand' tersebut.
Belakangan ini saya merasa komentar-komentar A menjadi tidak beralasan, dan seringnya negatif. Sebentar lagi dia akan berulang tahun, saya jadi takut untuk memberikannya hadiah. Dua tahun terakhir, hadiah saya tidak memenuhi standarnya.
"Loe ngasih apaan sih Dev? Jam rusak loe kasih ke gua." Hem, saya tersinggung dengan pernyataan itu karena jelas-jelas jam itu berdetak ketika saya beli. Mana saya tahu kalau baterainya kebetulan habis.
"Sori Dev, tapi gua udah punya barang yang loe kasih itu. Nih, buat loe aja. Elo kan belom punya." Disodorkannya karpet yang saya beli khusus untuk kado ulang tahunnya. Karpet itu baru, bukan barang bekas. Karpet itu ada di kamar saya sekarang. Setiap kali saya melihat karpet itu saya sedih, saya benar-benar tulus dan niat membelikan A karpet itu karena saya berpikir lantai kamar A pasti dingin kalau musim dingin datang. Apa boleh buat, saya keduluan senior saya yang juga memberikan karpet (yang ternyata memang lebih besar, dan karpet saya jadi tampak seperti keset).
Hey, apa A benar-benar tahu banyak tentang hal-hal di atas (dan hal-hal lainnya)? Setahu saya, A selalu diam di kamar, jarang keluar. Kadang ceritanya hanya seputaran acara televisi dan internet. Dulu dia masih mengutip sumbernya "Oh, kemarin gua baca di internet kalau sebagian besar produk 'adadeh' ditarik dari pasaran karena kesalahan cetak". Itu dulu, kalau sekarang A lebih banyak mensensor sumbernya, ingat kedai-kopi-ternama-pasaran itu dong? Kebetulan saya menemukan sumber beritanya di situs pencari, dengan judul berbahasa Inggris. Di paragraf akhir berita itu disimpulkan, walaupun pasaran (karena cabang-cabangnya menjamur di mana-mana), namun sepertinya orang-orang masih akan terus berkunjung ke kedai mereka karena memang belum ada kedai lain yang menyaingi (dengan produk dan strategi pemasarannya yang jempolan). "Kombinasi pahitnya kopi dan rasa susu yang ditambahkan sepertinya tidak sesuai dengan selera saya, karena saya tidak lagi bisa merasakan karakter kopi di dalamnya." Tebak dari mana saya menemukan kutipan kalimat di atas? Ternyata bukan genuine perkataan A seperti sebelumnya, pendapat B ternyata benar "sesuai selera masing-masing". Yup, kutipan perkataan di atas memang saya dapatkan dari blog yang B tulis. Tanpa maksud apa-apa (dan bodohnya) saya mengetikan kalimat yang A katakan, search: kombinasi pahitnya kopi dan susu. Saya kaget karena di antara hasil yang ditemukan mesin pencari itu terkait blognya B (lengkap dengan foto dan deskripsinya)!
Ada hikmahnya juga sih Dev, tentang karpet, mungkin A juga merasakan hal yang sama "kasihan Devina, di kamarnya ga ada karpet" daripada tersia-siakan lebih baik diberikan kepada orang yang membutuhkan bukan? Untuk informasi-informasi yang disampaikan A, walaupun tidak jelas sumbernya (kita tidak akan pernah tahu kalau A benar-benar pernah mencoba, terlibat atau mendatangi sumber) setidaknya A mempercepat proses penyampaiannya, hitung-hitung berbagi berita :D
Senin, 24 Mei 2010
Desire Me (by Escada)
Mereka menginginkan saya, bukan hanya sebagai 'hiasan' yang bisa dipajang. Ego pria yang menginginkan wanita cantik (walaupun tidak begitu pintar) sebagai pendamping hidup. Sayapun tidak menyalahkan wanita yang menginginkan pria mapan (walaupun tak rupawan) sebagai pilihan akhir. Saya juga menjadi 'jimat' bagi mereka, pembawa hoki dan sumber inspirasi. Pertanyaan saya kadang dijadikan pertanda. "Apakah besok akan turun hujan?" Jelas-jelas saya bertanya. Bukan jawaban yang saya dapatkan karena keesokan harinya mereka ramai-ramai membawa jas hujan dan payung. Apakah hari itu hujan turun? Secara kebetulan iya. Dibilang kebetulan juga tidak karena memang dua minggu ini cuaca selalu cerah dan terik, tiba-tiba angin sejuk berhembus kemarin sore.
Boleh jadi saya adalah harapan dan keinginan mereka. Namun, saya adalah bencana bagi ibu-ibu mereka, atau kekasih dan isteri mereka. Saya adalah kabut tebal yang mengisi celah-celah sempit otak mereka. Mereka tidak lagi menjadi anak yang penurut, kekasih dan suami yang setia. Mereka memberontak. Tidak heran, cercaan dan makian juga menemani hari-hari saya, selain pujian dan rayuan yang selalu saya dapatkan. Apakah saya sengaja menggoda mereka dengan penampilan yang menggoda dan wah? Bukan gaun tipis dan ketat yang saya kenakan. Bukan merah pilihan warna saya. Mereka menganggap saya sebagai gelapnya malam yang nyata-nyata gelap dan tidak terlihat, menyergap, dan memeluk erat pikiran-pikiran mereka. Mereka tidak mendeskripsikan saya sebagai soma, bukan geliat dan liukan tubuh, bukan gesture dan tekstur. Hanya serupa bayangan hitam pekat.
Argh, kali ini saya harus meyakinkan para ibu. Tidak untuk kekasih dan para isteri. Saya tahu, mereka (para ibu) juga menginginkan saya. Ibu mana yang tidak ingin anaknya berhasil dan sukses. Ibu-ibu menjadi ragu ketika anak mereka bertemu dan bisa meraih saya dalam dekapan (pikiran) mereka, apakah kelak anak lelaki mereka akan bahagia? Mereka takut untuk menanyakan langsung kepada anak lelaki mereka. Saya pernah bertanya, apakah kalian bahagia? Lelaki-lelaki itu menjawab dengan mantab dan lantang "Ya! Kami bahagia! Kamu adalah teman, sahabat, pasangan, kekasih, guru dan ibu bagi kami." Hah?! Mereka menganggap saya sama seperti Ibu mereka?! Bayangan hitam.
