Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

Ugly Duckling

“De, apa bagus untuk mempromosikan bakat Kakak yang tersembunyi ini?”
“Lah, emang apa bakat Kakak apa? Yang Dedek tahu cuma tidur…”
“Yah itu De.. Mumpung PSBB* siapa tahu ada orang atau perusahaan yang membutuhkan talent Kakak untuk mengiklankan produknya…”
“Banyak kali Ka, yang selama PSBB ini bertalent tidur, males-malesan dan rebahan terus kaya Kakak. Bakat Kakak yang satu itu sudah tidak lagi istimewa Ka, sudah menjadi aktivitas nasional bahkan mendunia.” #kaumrebahan 
“Iyah juga yah De.. Kakak pikir selama PSBB ini orang-orang menjadi lebih kreatif, coba lihat aja itu di media social, jadi banyak orang-orang yang posting masak-masak, buat-buat barang, review-review barang, dadakan jadi trainer olahraga, bahkan ada yang beralih menjadi vlogger rumahan yang membahas rumahnya sendiri karena tidak bisa jalan-jalan. Adek bikin apa selama PSBB ini?”
“Yah Kakak.. Kakak ga lihat selama ini kerjaan Adek, sibuk bikin tugas, kelas online, diskusi online, seminar online..”
“Bagus, bagus.. Lumayan yah De, PSBB nya jadi berfaedah. Udah ah De, Kakak ngantuk, lanjut tidur dulu yah De..”
Yaelah Kakak, mandi dulu Ka! Sudah berapa hari Kakak ga mandi?! Mandi Ka!”

***

Hai guys! Long time no see yah guys, kembali lagi bersama saya di Nothing Than Blah, blah, blah blah… (bayangkan saya melambai-lambaikan tangan, berdadah-dadah yah, bukan melambaikan tangan karena menyerah seperti di Uji Nyali Dunia Lain. Berbicara sendiri menghadap kamera ponsel). Tumben yah saya menulis lagi di sini, kalau bukan karena tugas kuliah (eh busyet, belasan tahun sudah berlalu tetap saja saya masih mengerjakan tugas kuliah..). Oiyah, mesti di hashtag dan di tag #tugasteoripsikoanalisa #dokterrinvilrenaldi #outputproject #selfassesment #edukasidiri (saya ijin pilih edukasi diri saja yah dokter, karena saya masih dalam tahap incapacity untuk mengedukasi masyarakat luas).

Terus terang saya bingung sekali untuk mengerjakan tugas ini, semua rekan kelompok saya sepertinya mengerti dan memahami tugasnya. Saya mau bertanya takutnya malah menjadi diskusi sendiri nantinya, yang berujung panjang. Salah satu rekan saya, malah sudah berkali-kali membuat psikoanalisa, walaupun sekedar mereview drama Korea, The World of Married di status WA* (tag ah orangnya, biar tidak dibilang julid @dokterTuti) dari segi psikoanalisa, dan sudah membuat ilustrasi singkat di akun Facebooknya mengenai sudut pandang yang berbeda terhadap satu benda atau kejadian tertentu. Saya sempat terpikir, dan sempat disebutkan juga oleh rekan-rekan di grup juga, apa saya membuat tutorial memasak sederhana ala-ala Tiktokers sebagai wujud dari #sublimasi saya? Namun, sepertinya ini sudah sering dilakukan rekan saya (tag lagi ah @doktermustaina) di akun Facebook dan Instagramnya dengan menampilkan foto-foto masakan buatannya sendiri. Atau bisa juga seperti @dokterTya, yang pada saat saya mengetikan ini, beliau sudah berhasil mengupload dan memposting tugasnya di media Instagram dalam bentuk ilustrasi yang mengedukasi (saya sudah konfirmasi loh ke orangnya..). 

Kalau sampai harus menjadi vlogger yang mengedukasi masyarakat luas mengenai kesehatan mental seperti senior saya (bisa cek linknya man-teman) sepertinya agak sulit yah. Bukannnya tidak mungkin, tetapi saya butuh waktu untuk belajar lagi. Namun setidaknya dari definisi vlogger, video blogger, setengahnya saya sudah dapatlah, bagian blogger nya saja. Walaupun cuma sekedar curhat di blog ini, sama seperti @dokterilma :-D

Saya sempat terpikirkan juga untuk menganalisa cerita dongeng “Ugly Duckling” atau dalam Bahasa Indonesia: Anak Itik yang Buruk Rupa karangan Hans Christian Andersen. Kenapa saya terpikirkan dongeng yang satu itu padahal banyak dongeng-dongeng lain yang lebih ‘tragis’? Sempat dong saya meng-googling: Psychoanalysis of Ugly Duckling. Tara… Ada saudara-saudara, banyak! Mungkin saya tertarik dengan cerita itu, sama dengan perasaan si author yang membuatnya, yang menurut si penelaah, berdasarkan kisah hidup si author. Who knows? ;-) (saya membaca yang ini https://prezi.com/fna9irvnalwz/the-ugly-duckling-and-psychoanalytical-theory/?fallback=1 man-teman, karena singkat, padat dan jelas). Akhirnya tidak jadi sih, karena ternyata dari cerita yang pendek itu, banyak sekali yang bisa dan harus dianalisa, walaupun bentuknya fabel.



Beralihlah saya ke sini, maksudnya? Yah, membuat cerita ini, dan sebetulnya saya lebih tertarik akan satu kata istilah, yang tidak juga baru, tetapi tiba-tiba saya jadi ingin mencari tahu. Dari kemarin saya kepikiran man-teman ;-)

Selebgram, selebriti Instagram. Saya berusaha mencari tahu asal katanya, saya terpikir berasal dari Bahasa Inggris, celebgram. Eh, ternyata bukan. Hahaha. CMIIW*. Ada ndak sih istilah untuk orang-orang yang tertarik dengan kata-kata? Oiyah, kembali ke topik.. Saya mengambil pembahasannya dari ini yah, karena artikel ini yang paling awal muncul dan penjelasannya lumayan terperinci disertai info grafik di akhirnya. Saya kutip dari sana:

‘Selebriti Instagram atau yang dikenal dengan sebutan "selebgram" belakangan cukup beken di kalangan anak muda masa kini. Selebgram berasal dari berbagai latar belakang. Mereka bukan hanya selebriti yang sudah top terlebih dulu di layar kaca.
Selebgram bisa seorang pencinta fotografi, pehobi travelling, pencinta kopi, penggila make-up, pencinta binatang, atau sekadar penyuka humor. Mereka memiliki ribuan hingga jutaan followers.’

Pencinta fotografi √ 
Pehobi travelling √
Pencinta kopi √√
Penggila make-up XXX
Pencinta binatang √
Penyuka humor √

Dari kriteria-kriteria itu, lumayan lah saya bisa memenuhi 5 dari 6. Tetapi mari kita lihat dari kriteria berikutnya: Mereka memiliki ribuan hingga jutaan followers. Yah, gugur langsung deh saya masuk dalam golongan selebgram :-D Yah maklum, ‘followers’ saya, tidak tepat juga sih saya menyebut followers untuk mereka, karena yah saya berteman dengan mereka di dalam dunia nyata juga. Mereka adalah teman-teman sekolah dari SD, SMP, SMA, kuliah, kuliah, kuliah, teman dan rekan kerja saya, mantan pasien-pasien saya dulu sebelum saya menjadi pengangguran seperi sekarang ini, dan tentu saja saudara-saudara dari keluarga besar saya ;-D

Tabe' dokter, mungkin karangan bebas ini tidak sesuai atau melenceng dari maksud tugas dokter. Tapi ini yang terpikirkan dokter, mungkin dokter dan man-teman malah bisa menjadikan tulisan ini sebagai bahan psikoanalisanya, tergantung pemikiran dan penafsiran masing-masing ;-) 

*PSBB: Pembatasan Sosial Berskala Besar 
Siapa tahu saya atau orang lain membaca tulisan ini di tahun 2030, setidaknya, jadi tahu kalau ada istilah ini di tahun 2020. 
*WA: WhatsApp Messenger
*CMIIW: Correct Me If I'm Wrong (Instant Message Style Chatting)
dari https://www.urbandictionary.com/define.php?term=cmiiw

#tugaskuliahteoripsikoanalisa #ilustrasi #parodi #psikoanalisa #humor #defensemechanism #copingmechanism #coping #conscious #unconscious #precociousness #Freudian #Freud #sublimasi #rasionalisasi #intelektualisasi #danlainlain

Minggu, 08 Mei 2016

I Am (not) So Happy Customer

Sabtu pagi, dalam rangka long weekend, saya menyempatkan diri untuk ‘berkunjung’ ke mall wah di dekat rumah. Saya sengaja datang bertepatan dengan jam buka mall, jam sepuluh pagi lewat sedikit lah. Pada jam segitu pun pengunjung mall sudah mulai ramai. Saya langsung menuju ke gerai ATM. Yups, tujuan saya ke mall memang bukan untuk window shopping, sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu liburan, apalagi temu kangen dengan teman-teman. Dari empat hari libur long weekend, tanggal 5 sampai 8 Mei 2016 hari Kamis sampai Minggu, saya hanya ‘kebagian’ hari Sabtunya saja, sisanya yah saya (ada jadwal) jaga, entah pagi atau malam. Jadinya, saya memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Tujuan saya pertama adalah ke gerai ATM, untuk bayar biaya pemeliharaan lingkungan komplek rumah, top up kartu Flazz, mengganti nomor PIN kartu ATM yang baru dibuatkan kantor dan transfer uang untuk ‘barang dagangan’. Untungnya gerai ATM di mall tersebut masih sepi, saya hanya bertemu satu mbak cleaning service yang sedang menyapu sambil berkaca di dinding cermin gerai. 

Setelah selesai urusan pencet-memencet tombol, saya segera bergegas ke lantai atas untuk menukarkan botol-botol bekas ‘kosmetik’. Cih, jangan dibayangkan serangkaian botol produk kecantikan dari pembersih wajah, pelembab, alas bedak dan sebagainya. Nope. Saya hanya membawa 3 botol, salah satunya tempat bedak sih. Kenapa saya niat banget ke mall untuk menukarkan botol-botol bekas tersebut? Kebetulan toko tempat saya membeli produk kecantikan tersebut sedang ada promo, menukarkan botol bekas produk mereka dan mendapatkan diskon 50% (untuk produk-produk tertentu). Jikalaupun (bahasa apa ini?) Anda tidak berniat menggunakan promo tersebut, botol-botol tersebut masih bernilai 1 poin per satu botol, yang nantinya diakumulasi di akhir tahun dan bisa ditukarkan dengan berbagai merchandise lucu. Saya lebih memilih pilihan yang kedua, karena biasanya merchandise nya memang cantik, seperti diary dengan design yang fresh atau tote bag untuk tas belanja dengan design unik.

Bergegaslah saya ke lantai atas, terlihatlah dua SPG perempuan, satu sedang serius mengepel dan satu bertugas menyapa sekaligus melayani customer yang datang. Sebelum saya, ternyata sudah ada satu ibu dengan anak perempuannya,  yang mungkin berusia 10 tahunan, sedang asyik memilih-milih produk diskon yang terpajang di display di tengah toko. Begitu saya masuk, segera Mbak yang bertugas menyapa datang menghampiri saya. “Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?” Begitu sapanya, tanpa senyum, tanpa emosi, tanpa intonasi seperti robot yang mengucapkan kalimat yang berulang. “Terima kasih, saya lihat-lihat dulu.” Saya menjawab dengan senyum dan melihat-lihat. 

Jam berapa ini? Sepertinya baru setengah jam berlalu setelah mall buka, masa sih si Mbak sudah lelah? Ah, mungkin dia bukan tipe morning person, yang kalau pagi-pagi bawaannya selalu jutek. Atau mungkin dia belum sempat ngopi atau sarapan pagi. Bisa jadi si Mbak sudah datang sejak Subuh untuk mengatur dan membersihkan toko atau menghitung stok semalaman. Oh, atau si Mbak lagi ‘dapet’ hari pertama, jadi wajar kalau dia menahan nyeri perutnya. Banyak kemungkinan yang membuat si Mbak menjadi lemah, letih, lesu, tidak bersemangat, bermuka masam (walaupun full make up) di pagi hari itu. 

Oiyah, apa si Mbak terlihat pucat? Ah, saya lupa mengeceknya, tapi tidak sopan sepertinya kalau tiba-tiba saya ‘mendelikkan’ kelopak matanya untuk melihatnya. Namun, sepertinya si Mbak memang agak pucat di balik dempulan bedaknya. Tapi bisa jadi karena dia memilih rona bedak yang agak putih dari warna kulitnya, sehingga menimbulkan kesan pucat, ditambah pilihan eyeshadow berwarna biru muda. Kenapa saya bisa tahu? Selama saya memilih-milih produk, si Mbak tetap mengikuti saya dan beberapa kali saya menangkap dari sudut mata (saya lirik-lirik gituh) kalau si Mbak meperbaiki riasan wajahnya, entah bulu mata, rambut atau sekedar bercermin di dinding toko yang memang hampir semuanya dilapisi cermin.

‘Discount 50%’ saya meilhat banner merah di depan produk handcream lucu, bertanyalah saya “Mbak, handcream nya masuk ke promo penukaran botol yah?” Dengan antusias saya bertanya. “Iya Mbak, tapi untuk pembelian 3 botol.” Jawab si Mbak singkat, lagi tanpa senyum, tanpa intonasi. “Waduh, untuk apa juga yah Mbak beli 3 botol, mau dijual lagi apa iya..” Jawab saya berusaha melucu, maksud hati membantu si Mbak meringankan suasana hatinya. Saya ambil salah satu botol handcream nya, ternyata tanggal expired nya tidak lebih dari satu tahun. Kalaupun saya beli tiga botol sekaligus kapan habisnya yah, setahu saya tangan saya cuma sepasang, alias dua, kiri dan kanan. Sayapun bukan tipe orang yang rajin memakai lotion-lotion atau krim-kriman. Saya sekedar suka bentuk dan warna-warni tube nya.
   
“Kalau ini apa Mbak?” Saya ambil sebuah botol sprayer orange langsing dari display. “Spray untuk menyegarkan wajah.” Again, singkat, padat dan jelas. Saya bisa baca sih tulisan di botolnya ‘face spray freshener’. “Jadi dipakenya sesudah pake bedak atau sebelumnya Mbak?” Tanya saya penasaran. “Bisa dua-duanya, sebelum bisa, sesudahnya juga bisa.” Sebenarnya saya masih penasaran, maklum saya kurang mengerti fungsi dari produk-produk kecantikan. Kalau seandainya dipakai sesudah pakai bedak dan produk kosmetik lainya, bukannya nanti luntur yah?

Berjalanlah saya menuju counter cashier, karena saya sudah mendapatkan produk yang saya mau (mungkin si Mbak sudah bisa bernafas lega). Eh, tiba-tiba saya teringat sesuatu, berhentilah saya di tengah-tengah, Mbak di belakang sayapun ikut mengerem ‘ckiettt’ (lebay deh..). “Mbak, kalo deodorant yang spray ada ga Mbak, yang tidak berbau, tidak berasa dan tidak meninggalkan bekas di baju?” Tanya saya sambil menoleh ke si Mbak di belakang. “Ga ada Mbak, tapi adanya ini..” Diambilkannya satu botol hitam dari rak display yang memang tepat di sampingnya. “Ini Mbak, tapi buat cowok. Enak kok baunya, saya juga suka.” Wew, tumben si Mbak memberikan rekomendasi dan menjelaskan dengan sedikit emosi. “Coba deh Mbak..” Wow, kemajuan si Mbak melanjutkan kalimatnya. Crot.. Saya semprotkan di pergelangan tangan, bingung juga sebenarnya di bagian mana saya harus mencoba deodorant spray cair, masa langsung di ketek. Yah, saya anggap deodorant sejenis parfumlah, karena yang mau dirasakan di sini adalah aromanya.

Sambil menggosok-gosokkan pergelangan tangan, saya berjalan ke cashier, kali ini tanpa berhenti. Saya serahkan member card, sambil mencium-cium pergelangan tangan saya. “Waduh, saya jadi bau cowo!” Lucu juga ekspresi si Mbak ketika mendengar komentar saya, dia terkejut dan setelahnya muncullah ekspresi ‘aneh banget sih nih orang, udah dikasih tau juga tadi kalo untuk cowo..’

Oiyah, saya bukan tipe customer yang nanya-nanya tapi tidak jadi beli yah (kadang begitu juga sih), saya beli beberapa barang kebutuhan saya kok, dan bukan produk diskon yah. Kalau tipe pelanggan yang bawel, bisa jadi sih. Pagi-pagi sudah tanya ini-itu ke Mbak SPG nya, tapi pertanyaan saya wajar kok, karena saya penasaran dengan produknya. Kan lumayan kalau saya tertarik untuk beli. Dari awal masuk sampai saya selesai transaksi, si Mbaknya tidak pernah senyum loh. Tidak salah sih, karena si Mbak tetap melayani saya dengan standard prosedur yang benar, tapi rasanya ‘asem’, ‘kecut’, membuat pagi sedikit lebih suram. Rasanya sayang, sudah dandan cantik-cantik tapi kok tidak senyum dan tidak bersemangat. Mungkin ini efek yang saya bawa dari bekerja di perusahaan yang mengedepankan semboyan 5 S: senyum, salam, sapa, sopan, santun dan satu lagi Semangat Pagi!   
Semoga setelah saya keluar dari toko itu, si Mbak bisa tersenyum (dan bernafas lega) 'akhirnya pelanggan annoying yang bawel luar biasa pergi juga, untung dia belanja..' Semoga...

Sabtu, 08 September 2012

Pus, Pus, Meong


Duh, punya teman cantik itu 'makan hati'. Bukannya saya sirik atau bagaimana. Bisa bayangkan bagaimana setiap harinya saya selalu dibanding-bandingkan dengan dia. Ouh, ouh, ouh. Bukan berarti saya cantik juga (cuma satu orang yang bilang saya cantik dengan tulus, makasih yah, suwun mas, matur nuwun..), hanya karena saya dan dia berasal dari tempat yang sama dan latar belakang yang mirip-mirip, sehingga saya selalu 'disandingan' dengan dia. Saya dari Jakarta, dia dari Jogjakarta, sama-sama di Pulau Jawa dan ada kata 'jakarta' nya. Dari segi penampilan, jelas berbeda, wuih, jauh berbeda. Dia bagaikan bidadari cantik yang turun dari khayangan, sedangkan saya manusia biasa yang kebetulan berlabel perempuan.

"Gila, baru aja aku ketemu Ka Vana, cantik banget yah. Ramah pula."
"Iyah, beda banget sama Ka Vina, jutek."
"Ka Vana tuh asyik banget kalo diajak ngomong, rame orangnya."
"Beruntungnya kamu, aku ketemunya Ka Vina, anaknya sombong, angkuh."

Duh, saudara-saudari 'Kak Vina' itu memang orangnya pendiam dan memang dari sananya bertampang jutek, wajar kalau dia diam-diam dan 'malas' berbicara. Disuruh 'rame' dianya malah bingung, wong disuruh senyum saja susah.

Mau dibandingkan bagaimana juga, saya akan tetap 'kalah', ga level. Minder nih ceritanya? Eh, engga jugalah. Saya bersyukur kok dengan keadaan saya sekarang. Dan tentu saja saya mensyukuri keadaan teman saya yang cantik itu. Saya bangga punya teman secantik dia. Tapi saudara-saudari saya yang terkasih, bisa tidak, kalau membandingkan saya dan beliau, tengok kiri-kanan dulu. Pastikan saya tidak berada di balik pintu, di ruangan sebelah yang hanya berbatas tripleks tipis, atau setidaknya jangan tepat di belakang punggung saya. Ini namanya 'mematikan' karakter saya. Mbok yah kalau mau membandingkan carilah orang yang selevel dengan Kak-Vana-kalian-yang-maha-sempurna itu. Jangan mentang-mentang kita berdua wong Jowo, terus dia dan saya haruslah mirip. Tidak saudara-saudari terkasih, tidak semua wong Jowo itu ramah. Oiyah, saya lupa, ane anak Betawi aseli :D 

Selingan (Mom & Me)

"Mam, kalo kucing lagi hamil, muntah-muntah ga?" Saya bertanya karena memang Mi-Chan (atau temannya) kebetulan meninggalkan muntahannya di teras rumah.
"Apa?! Devina hamil?!" Si Mama menjerit histeris di ujung telepon.
"Haduh, bukan Mama. Kalo ku..cing.. hamil (menghela nafas), kucingnya muntah-muntah ga?" Sengaja saya berbicara lambat-lambat, mengeja k-u-c-i-n-g.
"Ouh, Mama pikir kamu hamil. Kalo kamu hamil, melahirkannya harus disesar dong yah?" Tidak menjawab pertanyaan, malah mengajukan pertanyaan lainnya, duh.
"Loh kok?" Sayanya pun bingung dengan pertanyaan yang tidak terduga dan tidak ada hubungannya dengan kucing, dan kenapa juga saya harus dioperasi caesar. Sebenarnya ke manakah arah pembicaraan si Mama?
"Iyahlah, kamu kan udah tua. Kalo ngelahirin normal terlalu beresiko. Hahaha.." Hah? Jawaban yang tidak nyambung dari si Mama. Memangnya berapa usia saya sekarang, sudah lewat tiga puluh tahunkah? Sehingga akan beresiko jika hamil dan melahirkan pada usia yang relatif tidak muda lagi.  
"Eh.. Emang hamil itu berapa lama Mam?" Dengan bodohnya saya bertanya.
"Sembilan bulan lah. Masa kamu ga tau." Yah, kisaran kehamilan cukup bulan adalah 37-42 minggu. Apakah bisa kehamilannya menjadi bertahun-tahun (amit-amit jabang bayi)? Karena usia saya sekarang belumlah 30 tahun, kalaupun saya hamil sekarang atau tahun-tahun ke depan nanti, dari segi usia masih bisa dibilang tidak beresiko kok :)
"Loh kok, aku dibilang beresiko Mam?" Masih dengan tanda-tanya besar, kenapa Mama berkesimpulan begitu. 
"Yah iyahlah Deph, yang sekarang hamil kan kucing kamu, bukan kamu. Kalo kamu mah, Mama ga tau deh kapan. Hahaha.." Mama tergelak di ujung telepon.
Jleb, jleb, jleb (masih berlanjut 'jleb' nya)...

Yah Mam, langsung to-the-point aja deh, intinya: kapan anakmu ini menikah dan 'mempersembahkan' cucu-cucu cantik dan ganteng (ngarep) untuk Mama bukan? Yah, yah, yah, sabar yah Mam.

"Deph!" Tebak, siapa yang menelpon saya?
"Iyah Mam.." Yup, siapa lagi kalau bukan si Mama.
"Tangan Mama gatel Deph." Suara Mama berubah serius.
"Mama habis pegang apa memangnya?!" Sayapun panik, mulai terpikir slogan 'cuci tangan sebelum makan'. Maklum, si Mama agak-agak malas mencuci tangan, biasanya beliau hanya mengelapkan tangannya di celana atau bajunya.
"Engga habis pegang apa-apa kok." Ouh oukeh, saya mulai bingung.
"Terus?" Saya berusaha mengorek informasi lebih jauh lagi.
"Kalo tangan kanan kan mau dapet rejeki, kiri mau bagi-bagi rejeki. Tapi ini dua-duanya Deph!" Nada panik mulai terdengar di ujung telepon. 
"Jadinya rejekinya double dong Mam?" Menurut saya dan Mama, gatal pada telapak tangan kanan adalah tanda-tanda mau mendapatkan rejeki mendadak. Sedangkan gatal pada telapak tangan kiri juga berarti mendapatkan rejeki, tapi berlebih. Sehingga kita wajib membaginya dengan orang lain. Intinya kiri-kanan sama-sama dapat rejeki, ga mau rugi ceritanya ;p
"Kalo itu amin dah. Tapi bukan itu kayanya Deph.." Hem, seperti biasa, 'mau dibawa ke mana pembicaraan kita, kalau kau terus menunda-nunda, dan tak ada jawaban yang pasti, antara kau dan aku..' (original song by Armada Band, Mau Dibawa Kemana).
"Jadi Mama maunya apa?" Lanjut bernyanyi (dalam hati) 'tolong dengar aku dan jawab pertanyaanku..'
"Hem, kayanya Mama mau nimang-nimang cucu deh. Hehehe.." Mama terkekeh di ujung telepon.
"Eh.." Sayapun sukses dibuat melongo. O.

Yup, tapi ternyata firasat Mama terbukti benar, sebulan kemudian (lama banget yah) kucing Mama, si Pus beranak. Bukan satu atau dua, tapi empat sekaligus! Selamat yah Mam, eh, maksudnya selamat yah Pus :D

Ini Mi-Chan, kucing tetangga yang memutuskan pindah rumah
dan 'mengadopsi' saya sebagai tukang-kasih-makan barunya.


Kamis, 17 Mei 2012

Restricted/ Dewasa*


"Kak, oral seks itu kaya apa yah?" Matanya yang besar menatap saya lurus-lurus, polos, tanpa disertai satupun ekspresi aneh di wajahnya.
"Hah?! Maksud kamu?" Sedangkan saya kaget setengah hidup, tiba-tiba ditanya begitu. Apalagi di tengah-tengah diskusi kelompok.
"Iyah Ka, maksudnya mulut ke mulut atau bagaimana?" Lagi dengan tatapan polosnya dia menatap saya lekat-lekat.
Nah loh! Bagaimana saya harus menjelaskannya (dengan bisik-bisik di antara kerumunan teman-teman lainnya)?

Yah, yah, yah. Memang pada saat itu saya dan teman-teman lainnya sedang membahas penyakit-penyakit infeksi menular seksual (IMS), jenis-jenis sifilis, gonore, dan teman-temannya. Yah memang ada hubungannya, pertanyaan teman saya itu dengan topik diskusinya. Tapi, tapi, tapi saya dan dia bukan lagi anak SMA, melainkan mahasiswi tingkat akhir suatu perguruan tinggi negeri. So sad but true :|

(mulut)+(mulut)= ciuman bukan sih???

Sebenarnya agak ngeri saya mendengarnya, ironis saja, kita boleh tahu dan mengerti apa itu penyakit-penyakit menular seksual dari A sampai Z, tetapi kita tidak benar-benar tahu hal-hal dasar mengenai 'seksual' nya itu sendiri. Eh, eh, eh. Bukan berarti saya expert dalam hal ini. Saya juga minim pengetahuan mengenai hal-hal di atas. Tiiit. *sensor 

Beberapa teman dekat saya (yang sama-sama 'menderita' di China) pasti tertawa guling-gulingan membaca pernyataan saya di atas. Eh, maksud loe?! 

Bener deh teman-teman, pendidikan seks dini itu penting. Yah bukannya untuk segera dipraktekkan atau bagaimana. Sekedar tahu dan untuk langkah penanggulangan aja. Ga ada salahnya toh? Daripada dibohongi orang atau terlambat tahu :) Duh Dev, gaya bicara loe dah kaya seks expert therapist gitu (channeling dr. Boyke) :p

"Dev, cara pake kondom gimana sih?" Bagaimana hayoh? Kalo misalnya di search di Google atau di Youtube ada ga yah? Hahaha (ada tau, di Wikipedia aja ada). Tapi pertanyaan ini wajar, karena ditanyakan waktu awal-awal saya masuk kuliah. Kira-kira masih belasan tahun lah usianya (akhir-akhir, kalo ga delapan belas yah sembilan belas). Bersyukur saya SMA di sekolah khusus perempuan, yang entah bagaimana, kami mendapatkan penjelasan tentang kegiatan biologis ini secara gamblang dan lumayan mendetail. Kami boleh bertanya sepuas-sepuasnya, seaneh-anehnya atau bahkan sepolos-polosnya sampai-sampai petugas penyuluhannya kipas-kipas 'kegerahan' sambil terus-menerus menelan ludah. 

Hei kamu, yang pernah bertanya perihal alat kontrasepsi berbahan latex ini, apa kabar? Pasti sekarang sudah tahu dong jawabannya dan prakteknya secara langsung. Hoho. Wajarlah, kan sudah menjadi Mrs. Someone ;) 


Tidak ada hubungannya antara gambar ilustrasi dengan cerita, saya suka aja :)

Tulisan ini dibuat sebagai 'pengganti' tugas saya menelaah lebih lanjut penyakit gonore, seandainya saja bisa, pasti tugas itu sudah selesai sejak dulu :p (info ga penting).

*Anak-anak di bawah 17 tahun, please jangan dibaca yah (pemberitahuan yang terlambat).

Kamis, 04 Agustus 2011

"I am lost without LOVE"

Tiga kali ketemu si Mbak berkaos krem bertuliskan kata-kata di atas. Di jalan turunan depan rumah sakit, tangga turun dan terakhir kali pas jam pulang, lagi-lagi di tangga rumah sakit. Duh Mbak, pantes aja selama ini saya 'nyasar' terus! Butuh 'love' sebagai kompas penunjuk arah dan pembimbing ke jalan yang benar ternyata : D

Sabtu, 02 Juli 2011

Head-In-The-Clouds


'Beautiful girl..'

Permisi Tante Cantik, maaf tulisan terakhir saya sepertinya menyinggung perasaan Tante. Terlebih lagi tulisan itu membuat saya 'terdengar' tidak cerdas, alias bodoh dan tidak terpelajar. Maaf Tante Cantik, kemampuan telepati saya masih belum terasah sepenuhnya. Nanti kalau ada kesempatan saya akan mencari Prof. X untuk berguru padanya. Duh, saya lupa kalau Prof. X sudah tiada, tewas terbunuh di episode The Last Stand (atau koma yah?).

Saya tahu Tante Cantik tahu segalanya, minder saya berada di dekat Tante Cantik. Tapi apa boleh buat Tante, keadaan saya yah seperti ini, dekil, kucel, bau dan tidak tahu apa-apa (serta lamban pula). Berbeda dengan Tante Cantik yang selalu harum, cantik dan kelihatan kinclong. Makanya saya maklum ketika Tante memutuskan untuk menjauh dari saya (selalu berada 3 langkah di depan, wajib hukumnya). Hiks. Memang tidak sepadan sepertinya.

"Bukan begitu!"
"Jangan!"
"Ga bisa!"
"Salah!"
"Engga boleh!"

Tante, saya belum sempat mengutarakan pendapat saya, tapi Tante Cantik sepertinya selalu tahu kalau pendapat saya pasti salah. Maklum saya anak pedagang, bukan anak seorang cendekiawan yang setiap harinya berkutit dengan buku dan pengetahuan.

'I'm just a girl..'

Tante Cantik, jangan galak-galak dong. Takut saya. Katanya Tante Cantik adalah seorang wanita yang lemah-lembut, tapi kok kalau berbicara kepada saya selalu dengan nada tinggi dan membentak. Kalau nanti orang lain tahu, image Tante bisa berubah loh. Maaf Tante, gara-gara kelambanan saya Tante jadi emosional.







Tante cantik deh, ci ci cuit...

Bang!

Jumat, 17 Juni 2011

Selera Nusantara*

Setahu saya, Kota Jakarta hanya satu di Indonesia (sebentar, saya googling dulu)... Sepertinya sama, semuanya menunjuk ke Jakarta, ibukota Indonesia. Tapi dari cerita teman-teman saya, sepertinya Jakarta yang kita tempati itu berbeda. Di Jakarta saya bisa menemukan hampir segalanya, tergantung permintaan dan harga.

Jakarta, di sana saya bisa bertemu roti tawar empuk kesukaan saya. Ada tiramisu ‘asli’ (baca: original) yang mantab rasanya, bukan dengan krim buatan dan sponge-cake yang keras. Saya bisa dengan puas makan kue basah khas Indonesia yang beraneka ragam. Bertemu lagi dengan berpuluh-puluh (atau ratusan?) resto Jepang yang bisa dibilang lebih autentik rasanya dibanding di sini.

Yah, balik lagi ke masalah selera masing-masing individu. Mungkin sayanya saja yang tidak begitu cocok dengan masakan khas Sichuan yang rasanya didominasi oleh pedas, pedas dan pedas. Biasanya diakhiri dengan rasa ‘baal’ (numbness, mati rasa) di area sekitar bibir dan lidah. Masakan khas Sichuan yang saya coba di Jakarta rasanya agak beda dengan yang di sini. Awal-awal saya tinggal di sini, saya belum terbiasa dengan masakan khas sini yang penuh dengan cabai, lada Sichuan (Sichuan peppercorn, duh bahkan kota ini punya ‘lada’ nya sendiri, atau andaliman dalam bahasa Indonesia), star anise (adas dalam bahasa Indonesia) dan minyak! Sekitar 2-3 minggu saya baru terbiasa, dengan artian mulut dan sistem pencernaan saya bisa menerima, tanpa rasa aneh dan diare : p

Entah, saya masih lebih memilih rasa masakan Padang yang pedas ketimbang masakan sini. “Itu beda! Rasanya beda, ga bisa disamaain.” Pasti teman saya ramai-ramai menangkis pernyataan saya itu : )


Bean Curd Special


Spicy mapo doufu or mapo tofu, one of Sichuan's speciality.

鸡蛋锅饼


Gorengan khas Chongqing : )

Chinese Mashed Potato


Chinese mashed potato with a lot of chili sauce.




* Jadi inget Rudy Choirudin, apa kabarnya yah? : ) ( http://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/10113-rudy-choirudin-ingin-menjadi-kiblat-masakan-nusantara.html )
** Dan ternyata, Chengdu, salah satu kota di provinsi Sichuan terpilih menjadi 'City of Gastronomy' dari seluruh dunia oleh UNESCO! (sumber: http://unesdoc.unesco.org/images/0019/001920/192047e.pdf )

Rabu, 03 November 2010

Big Black Book

Spring is here!
Spring is here!,
originally uploaded by dephina.
Bukannya GR, sepertinya blog ini seperti buku cerita besar yang dibaca diam-diam. Beberapa sahabat rupanya sesekali mengintip isi blog ini, dan tanpa sengaja mereka mengutip perkata saya. Seperti buku hitam yang diharamkan, mereka malu-malu (baca: tidak mau berterus-terang) membaca cerita-cerita saya.

Makasih yah teman-teman yang sudah mengintip blog ini. Kalian boleh request tempat, film, cerita/pengalaman atau makanan yang mau kalian coba atau datangi tapi ragu-ragu. Kalau saya sempat dan mungkin, akan saya laporkan di sini. Hahaha.

Terbukti 'iklan' Pizza Hut nya laku. Padahal saya tidak bermaksud mengiklankan :p

Sabtu, 05 Desember 2009

Saturday

Bukan, bukannya saya tidak menyukai hari Sabtu, sebagaimana (banyak) orang tidak suka dengan hari Senin. Saya malah lebih suka Senin, fresh, habis berlibur dan masih penuh semangat. Namun, Sabtu biasanya saya lebih memilih diam di kamar menjalani ritual tidur seharian, memuaskan diri menonton film, atau sekedar mendengarkan musik sambil membaca dan menulis. Kalaupun terpaksa keluar, biasanya hanya sekedar membeli makanan dan minum.

Hari Sabtu identik dengan 'the lowest energy (and mood) level' for me. Jadinya? Kemungkinan saya murka pada hari ini sangatlah mungkin. Biasanya setelah murka perasaan saya menjadi tidak enak, gundah gulana. Berakhirlah seharian saya dengan perasaan tidak nyaman, dan ini berakibat buruk untuk sistem koordinasi tubuh saya. Haha. Ada yah? Ada lah. Hari ini saya berkali-kali menjatuhkan/ menyenggol barang-barang di sekitar saya. Untungnya kejadiannya di kamar. Jadi tidak ada korban jiwa, kecuali saya sendiri. Celana yang terciprati makanan, sendal kamar yang terkena minyak, lantai kamar yang basah, dll.

Kapan yah saya bisa memasukkan foto ke dalam blog ini lagi?

Minggu, 06 September 2009

The Moon

Bulan itu. Rembulan yang memberi kekuatan. Di kota besar yang kacau, panas, penuh dengan manusia dan anjing. Ternyata bulan nya masih indah. Bukan saja mataharinya yang besar (dan dekat). Namun, bulan nya bersinar indah dan terang. Tidak terganggu oleh gemerlap cahaya lampu kota di malam hari. Ah, satu kekuatan baru. Satu hal indah yang lumayan (banyak) mengangkat kepenatan.

Senin, 11 Mei 2009

Kembali ke klasik, capek dengan si jazz. Ribet.

Label

cerminan (23) daily (11) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)