Tampilkan postingan dengan label cerminan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerminan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Pus, Pus, Meong


Duh, punya teman cantik itu 'makan hati'. Bukannya saya sirik atau bagaimana. Bisa bayangkan bagaimana setiap harinya saya selalu dibanding-bandingkan dengan dia. Ouh, ouh, ouh. Bukan berarti saya cantik juga (cuma satu orang yang bilang saya cantik dengan tulus, makasih yah, suwun mas, matur nuwun..), hanya karena saya dan dia berasal dari tempat yang sama dan latar belakang yang mirip-mirip, sehingga saya selalu 'disandingan' dengan dia. Saya dari Jakarta, dia dari Jogjakarta, sama-sama di Pulau Jawa dan ada kata 'jakarta' nya. Dari segi penampilan, jelas berbeda, wuih, jauh berbeda. Dia bagaikan bidadari cantik yang turun dari khayangan, sedangkan saya manusia biasa yang kebetulan berlabel perempuan.

"Gila, baru aja aku ketemu Ka Vana, cantik banget yah. Ramah pula."
"Iyah, beda banget sama Ka Vina, jutek."
"Ka Vana tuh asyik banget kalo diajak ngomong, rame orangnya."
"Beruntungnya kamu, aku ketemunya Ka Vina, anaknya sombong, angkuh."

Duh, saudara-saudari 'Kak Vina' itu memang orangnya pendiam dan memang dari sananya bertampang jutek, wajar kalau dia diam-diam dan 'malas' berbicara. Disuruh 'rame' dianya malah bingung, wong disuruh senyum saja susah.

Mau dibandingkan bagaimana juga, saya akan tetap 'kalah', ga level. Minder nih ceritanya? Eh, engga jugalah. Saya bersyukur kok dengan keadaan saya sekarang. Dan tentu saja saya mensyukuri keadaan teman saya yang cantik itu. Saya bangga punya teman secantik dia. Tapi saudara-saudari saya yang terkasih, bisa tidak, kalau membandingkan saya dan beliau, tengok kiri-kanan dulu. Pastikan saya tidak berada di balik pintu, di ruangan sebelah yang hanya berbatas tripleks tipis, atau setidaknya jangan tepat di belakang punggung saya. Ini namanya 'mematikan' karakter saya. Mbok yah kalau mau membandingkan carilah orang yang selevel dengan Kak-Vana-kalian-yang-maha-sempurna itu. Jangan mentang-mentang kita berdua wong Jowo, terus dia dan saya haruslah mirip. Tidak saudara-saudari terkasih, tidak semua wong Jowo itu ramah. Oiyah, saya lupa, ane anak Betawi aseli :D 

Selingan (Mom & Me)

"Mam, kalo kucing lagi hamil, muntah-muntah ga?" Saya bertanya karena memang Mi-Chan (atau temannya) kebetulan meninggalkan muntahannya di teras rumah.
"Apa?! Devina hamil?!" Si Mama menjerit histeris di ujung telepon.
"Haduh, bukan Mama. Kalo ku..cing.. hamil (menghela nafas), kucingnya muntah-muntah ga?" Sengaja saya berbicara lambat-lambat, mengeja k-u-c-i-n-g.
"Ouh, Mama pikir kamu hamil. Kalo kamu hamil, melahirkannya harus disesar dong yah?" Tidak menjawab pertanyaan, malah mengajukan pertanyaan lainnya, duh.
"Loh kok?" Sayanya pun bingung dengan pertanyaan yang tidak terduga dan tidak ada hubungannya dengan kucing, dan kenapa juga saya harus dioperasi caesar. Sebenarnya ke manakah arah pembicaraan si Mama?
"Iyahlah, kamu kan udah tua. Kalo ngelahirin normal terlalu beresiko. Hahaha.." Hah? Jawaban yang tidak nyambung dari si Mama. Memangnya berapa usia saya sekarang, sudah lewat tiga puluh tahunkah? Sehingga akan beresiko jika hamil dan melahirkan pada usia yang relatif tidak muda lagi.  
"Eh.. Emang hamil itu berapa lama Mam?" Dengan bodohnya saya bertanya.
"Sembilan bulan lah. Masa kamu ga tau." Yah, kisaran kehamilan cukup bulan adalah 37-42 minggu. Apakah bisa kehamilannya menjadi bertahun-tahun (amit-amit jabang bayi)? Karena usia saya sekarang belumlah 30 tahun, kalaupun saya hamil sekarang atau tahun-tahun ke depan nanti, dari segi usia masih bisa dibilang tidak beresiko kok :)
"Loh kok, aku dibilang beresiko Mam?" Masih dengan tanda-tanya besar, kenapa Mama berkesimpulan begitu. 
"Yah iyahlah Deph, yang sekarang hamil kan kucing kamu, bukan kamu. Kalo kamu mah, Mama ga tau deh kapan. Hahaha.." Mama tergelak di ujung telepon.
Jleb, jleb, jleb (masih berlanjut 'jleb' nya)...

Yah Mam, langsung to-the-point aja deh, intinya: kapan anakmu ini menikah dan 'mempersembahkan' cucu-cucu cantik dan ganteng (ngarep) untuk Mama bukan? Yah, yah, yah, sabar yah Mam.

"Deph!" Tebak, siapa yang menelpon saya?
"Iyah Mam.." Yup, siapa lagi kalau bukan si Mama.
"Tangan Mama gatel Deph." Suara Mama berubah serius.
"Mama habis pegang apa memangnya?!" Sayapun panik, mulai terpikir slogan 'cuci tangan sebelum makan'. Maklum, si Mama agak-agak malas mencuci tangan, biasanya beliau hanya mengelapkan tangannya di celana atau bajunya.
"Engga habis pegang apa-apa kok." Ouh oukeh, saya mulai bingung.
"Terus?" Saya berusaha mengorek informasi lebih jauh lagi.
"Kalo tangan kanan kan mau dapet rejeki, kiri mau bagi-bagi rejeki. Tapi ini dua-duanya Deph!" Nada panik mulai terdengar di ujung telepon. 
"Jadinya rejekinya double dong Mam?" Menurut saya dan Mama, gatal pada telapak tangan kanan adalah tanda-tanda mau mendapatkan rejeki mendadak. Sedangkan gatal pada telapak tangan kiri juga berarti mendapatkan rejeki, tapi berlebih. Sehingga kita wajib membaginya dengan orang lain. Intinya kiri-kanan sama-sama dapat rejeki, ga mau rugi ceritanya ;p
"Kalo itu amin dah. Tapi bukan itu kayanya Deph.." Hem, seperti biasa, 'mau dibawa ke mana pembicaraan kita, kalau kau terus menunda-nunda, dan tak ada jawaban yang pasti, antara kau dan aku..' (original song by Armada Band, Mau Dibawa Kemana).
"Jadi Mama maunya apa?" Lanjut bernyanyi (dalam hati) 'tolong dengar aku dan jawab pertanyaanku..'
"Hem, kayanya Mama mau nimang-nimang cucu deh. Hehehe.." Mama terkekeh di ujung telepon.
"Eh.." Sayapun sukses dibuat melongo. O.

Yup, tapi ternyata firasat Mama terbukti benar, sebulan kemudian (lama banget yah) kucing Mama, si Pus beranak. Bukan satu atau dua, tapi empat sekaligus! Selamat yah Mam, eh, maksudnya selamat yah Pus :D

Ini Mi-Chan, kucing tetangga yang memutuskan pindah rumah
dan 'mengadopsi' saya sebagai tukang-kasih-makan barunya.


Sabtu, 02 Juli 2011

Head-In-The-Clouds


'Beautiful girl..'

Permisi Tante Cantik, maaf tulisan terakhir saya sepertinya menyinggung perasaan Tante. Terlebih lagi tulisan itu membuat saya 'terdengar' tidak cerdas, alias bodoh dan tidak terpelajar. Maaf Tante Cantik, kemampuan telepati saya masih belum terasah sepenuhnya. Nanti kalau ada kesempatan saya akan mencari Prof. X untuk berguru padanya. Duh, saya lupa kalau Prof. X sudah tiada, tewas terbunuh di episode The Last Stand (atau koma yah?).

Saya tahu Tante Cantik tahu segalanya, minder saya berada di dekat Tante Cantik. Tapi apa boleh buat Tante, keadaan saya yah seperti ini, dekil, kucel, bau dan tidak tahu apa-apa (serta lamban pula). Berbeda dengan Tante Cantik yang selalu harum, cantik dan kelihatan kinclong. Makanya saya maklum ketika Tante memutuskan untuk menjauh dari saya (selalu berada 3 langkah di depan, wajib hukumnya). Hiks. Memang tidak sepadan sepertinya.

"Bukan begitu!"
"Jangan!"
"Ga bisa!"
"Salah!"
"Engga boleh!"

Tante, saya belum sempat mengutarakan pendapat saya, tapi Tante Cantik sepertinya selalu tahu kalau pendapat saya pasti salah. Maklum saya anak pedagang, bukan anak seorang cendekiawan yang setiap harinya berkutit dengan buku dan pengetahuan.

'I'm just a girl..'

Tante Cantik, jangan galak-galak dong. Takut saya. Katanya Tante Cantik adalah seorang wanita yang lemah-lembut, tapi kok kalau berbicara kepada saya selalu dengan nada tinggi dan membentak. Kalau nanti orang lain tahu, image Tante bisa berubah loh. Maaf Tante, gara-gara kelambanan saya Tante jadi emosional.







Tante cantik deh, ci ci cuit...

Bang!

Rabu, 22 Juni 2011

Coffee for Two


Dia bilang "saya cantik.." Oh, yang dimaksud bukan 'saya' tapi dirinya sendiri. Hahaha. Yah, dia 'cantik', menurutnya. Berkali-kali saya bertemu dengan orang-orang bertipe seperti ini, mereka yang memiliki percaya diri sangat tinggi. Tidak ragu-ragu mereka menyatakan diri mereka sendiri sebagai 'wanita mandiri yang supel, cantik, seksi dan mapan'. Pingin rasanya saya mempertemukan teman-teman yang bertipe seperti ini di dalam satu kesempatan. Apa kiranya yang akan mereka bicarakan yah?

Satu teman saya memang seorang model, tapi bukan super model. Beberapa kali dia ikut kontes kecantikan, biasanya dia tersaring di tahap-tahap awal penjurian tapi sayangnya hanya sampai situ. Tapi memang dia 'cantik', berpostur bagus dan berpenampilan menarik, dari kalangan 'jet setter' pula. Dia salah satu 'klien' setia saya, kalau kebetulan saya pulang kampung, dia pasti langsung menghubungi saya untuk mengatur jadwal bertemu. Biasanya dia akan mengajak saya (mentraktir lebih tepatnya) ngopi-ngopi di 'warung kopi' mewah. Gelas per gelas cappuccino, latte bahkan ice lemon tea terus mengalir bergantian dengan cake dan snack ringan yang saya pesan. Si dia terus bercerita. Sesekali saya berkomentar dan menyatakan pendapat. Si dia hanya minum segelas-dua gelas kopi hitam pekat sambil mendengarkan dengan serius pendapat-pendapat saya. Kok saya betah? Cerita si 'dia' ini menarik dan jarang terjadi di dalam kehidupan saya, bahkan dalam kehidupan nyata sekalipun. Saya 'suka' kepribadiannya, walaupun ceritanya selalu tentang dirinya tapi dia bercerita dengan penuh gairah dan saya tidak pernah bosan mendengarkannya bercerita (baca: berkeluh-kesah). "Amit-amit deh Dev, walaupun dia manajer bank tapi tampangnya ga enak diliat, supirku aja masih lebih enak diliat!" Dia menyeruput kopi pahitnya sambil mengetuk-etuk meja kayu di depan kami.

Beda lagi dengan seorang teman yang selalu menyempilkan kata cantik, anggun, dewasa, feminin dan kata-kata sejenisnya itu untuk mendeskripsikan dirinya dan tindakan yang dilakukannya. "Permisi, wanita cantik mau lewat." Begitu katanya ketika dia melintas di hadapan saya. "Yah iyalah, wanita anggun ga mungkin duduk ngangkang." Suatu kali si dia mengomentari cara duduk saya, dan dengan sigap dia mencontohkan cara duduk wanita anggun yang benar. Teman saya ini juga suka bercerita dan menceritakan ulang cerita teman-temannya, dia juga selalu berusaha untuk membuatnya menarik. Tapi yah.. Tetap saja membosankan. Ceritanya biasanya kutipan (entah dari mana), dia jarang meminta pendapat atau mendengarkan komentar pendengarnya. Ketika saya ingin berkomentar, dia akan bilang "Bentar dulu, gue bla bla bla.." atau "Dengerin gue dulu.." Sayapun mendengarkan dia bercerita sampai selesai dan saya lupa mau berkomentar apa. Hahaha. Apakah si dia cantik seperti penggambaran dirinya tersebut? Apakah 'kualitasnya' sebagus yang dia ceritakan? Relatif sebenarnya, tapi yang pasti dia pelit! Dia tidak pernah menraktir saya :p

"Saklek kamu, Dev. Apa susahnya sih bilang kalau dia cantik?" Itu pendapat Momz, ketika saya bercerita tentang teman kedua saya.
"Tapi Mom, aku ga bisa boong."
"Jadi menurut kamu dia..." Momz diam.
"Huahahaha..." Tiba-tiba Momz tertawa di ujung telepon.
"Jahat kamu, Dev. Ga boleh gituh ah, dia kan anak orang juga."
"Makanya aku ga ngomong Mom. Aku juga kan ga bagus-bagus banget."
"Iyah, biasa aja yah Dev, ga usah lebay."

Mungkin teman kedua saya terlalu banyak mendengarkan Beautiful nya Christina Aguilera. Ga ada salahnya sih sebagai 'self booster', asal jangan keterusan aja, jadi ga liat-liat sekeliling :)

"Peduli amat pendapat orang, toh gua CANTIK!" Terus-terang bosen gua. Yeah, kill me baybeh.




Catatan untuk Devina, ternyata batas pertemanannya diukur berdasarkan urusan traktir-menraktir. Traktir dia segelas kopi, maka dia tidak akan berkomentar macam-macam :D

Jumat, 28 Januari 2011

Art of Giving ;)

"Hey Mom, makasih nyah.." Nyah, nyah, nyah. Begitu suara tawa saya waktu itu.
"Kenapa?" Seperti biasa Momz menjawab dengan pertanyaan, dan saya yakin dia menjawabnya dengan senyum tertahan.
"Terima kasih karena kebiasaan Mom ngasih-ngasih barang, bantuan dan segala macemnya itu menular ke aku dan adik-adikku."
"Apa kebiasaan itu menjadi beban?" Lagi-lagi Momz bertanya.
"Kadang..." Jawab saya tertahan.
"Kamu ngasih orang dengan mengharapkan sesuatu yah?" Momz terkekeh di ujung sana.
"I-yah..." Jawab saya lemah.
"Apa?"
"Ucapan terima kasih."
"Emang ucapan terima kasih penting? Kalau Mama lebih memilih dikasih barang lagi, atau diganti uang. Hahaha." Kali ini Momz tertawa lepas.

---

"Devina mah ga usah dibayarin, yang ada dia yang harusnya bayarin kita. Hahaha.." Saran seorang sahabat.
"Oh, yah udah sekalian aja." Bukan maksud saya sombong, berhubung makanan yang kita makan 'ga mahal-mahal amat', masih lebih murah sedikit dibanding harga satu venti caffe latte di Starbucks, sekali-kali gpp lah :)
"Eh, becanda kok Dev. Tapi kalo emang beneran mau bayarin ga nolak juga sih Dev. Hahaha.."
---
"Gimana cara kita bedain orang yang bener-bener butuh ditolong sama orang yang pura-pura butuh pertolongan?" Tanya seorang sahabat.
"Yah.. Elo beneran mau nolong dia ga? Tergantung niat loe lah." Jawab saya.
"Emang siapa sih?" Tanya saya lagi.
"Itu.." Sahabat menunjuk ke arah seorang pengemis di tangga jembatan.
"Ya elah, mau nolongin orang mikirnya lama banget. Elo kalo jadi dokter jaga di emergency, pasien loe mati duluan!" Sahabat saya yang lain berjalan menghampiri kakek pengemis itu dan menaruh (selembar uang 5 yuan) di mangkok kaleng kakek pengemis itu.
"Yuk De.." Sahabat saya yang baik hati itupun memanggil saya untuk melanjutkan perjalanan.

Memberi, menolong, membantu, menyumbang sepertinya maknanya tidak sama, biar efeknya lebih terasa (dramatis) kegiatan-kegiatan itu sebaiknya ditujukan untuk kaum papa, orang yang benar-benar menderita sengsara. Pilihlah organisasi-organisasi kemanusiaan yang benar-benar menaungi mereka yang memang tidak mampu. Sayapun bingung, apa batasan ketidak-mampuan mereka? Mungkin seorang sahabat hanya akan memberikan pertolongan (dalam hal ini finansial) kepada orang yang benar-benar melarat, semelarat-laratnya. Kalau dia masih punya rumah walaupun kontrakan sepetak, dengan anak 4, dan masih mampu mencari uang dengan mengumpulkan sampah dan menjadi tukang parkir, yah.. Itu masih 'mampu' lah. Padahal ke 4 anaknya tidak bersekolah, tapikan mereka masih bisa makan, walaupun sehari sekali. Sayapun menjadi bertambah bingung, berarti kalau saya mau menyumbang saya harus memastikan dia benar-benar tidak punya apa-apa, dan sepertinya susah juga mencarinya. Satu-satu akan saya datangi kolong-kolong jembatan, satu-satu akan saya wawancara calon-calon penerima sumbangan saya, kalau perlu disertai alat deteksi kebohongan. Saya tidak suka dibohongi! Saya hanya mau membantu mereka yang benar-benar butuh! Saya tidak ingin bantuan saya menjadi sia-sia, untuk mereka orang-orang malas!

"Capek juga Mom, selalu memberi.."
"Eits! Berarti kamu mengharapkan balasan dong?" Belum selesai saya berbicara Momz sudah menyelak.
"Eh.."
"Kamu bilang, kamu capek selalu memberi berarti kamu berharap sekali-kali menerima sesuatu kan?" Momz berkesimpulan.
"Eh, iyah juga sih Mom."
"Mereka maksa kamu untuk memberi?" Momz bertanya.
"Enggalah!"
"Alasan kamu memberi?" Tanya Momz lagi.
"Aku seneng aja kalo ternyata mereka seneng sama barang yang aku kasih."
"Apa kamu butuh sesuatu dari mereka sebagai imbalan?"
"Engga.."
"Berarti udah cukupkan? Cukup sampai senyum dan senangnya mereka itu, toh kamu ga butuh apa-apa lagi."
"Tapi Dev, memberipun tidak bisa dipaksakan, kalo kamu lelah, yah berhenti. Kalo kamu ga niat, yah ga usah. Apalagi kalo kamu merasa tidak dihargai, yah ga usah terus-terusan memberi. Percuma, pemberian kamu itu malah akan menjadi beban untuk mereka, kan ga ada harganya."


The Arhat's Temple (罗汉寺庙)

Rabu, 15 Desember 2010

Gundah Gulana*



Penantian kali ini benar-benar menyeramkan. Oh, bukan karena berapa jumlah usia saya sekarang, justru itu adalah hal terakhir yang saya sadari.

"Mbak, kuenya mau diantar kapan?"
"Eh, bentar yah Mbak. Saya cek kalender dulu." Sayapun tergesa-gesa mengeluarkan handphone dan mengecek, berapa hari lagi saya akan berulang tahun. Ah!
"Kuenya ini untuk Mbak sendiri atau untuk orang lain?" Si mbak pramuniaga bertanya lebih lanjut.
"Untuk saya sendiri kok."
"Oh.."
"Lilinnya mau yang satu-satu atau yang berbentuk angka? Kalo boleh tahu usianya berapa yah Mbak?"
"Eh, bentar yah Mbak." Lagi-lagi saya mengeluarkan handphone dari saku jaket saya, menghitung berapa usia saya tahun ini. Hahaha.
"Ini kuenya untuk Mbak sendirikan?" Tanda-tanda si mbak pramuniaga tertular 'amnesia' dadakan saya.

Ngeri, itu yang saya rasakan sekarang. Boleh dibilang 'takut' untuk menghadapinya. Bukan untuk hari H nya tapi untuk hari-hari berikutnya, sudah siapkah saya? Tahun kemarin (dan tahun-tahun sebelumnya) mayoritas saya melaluinya tanpa perasaan apa-apa, biasa saja. Yah, berulang lagi hari kelahiran saya. Namun, bukan hanya saya yang bertambah usianya, juga orang-orang yang saya cintai.

"Wei..**" Jawab saya dengan suara serak dan lemah.
"Dephina! Kamu kenapa?! Sakit?! Abis nangis?!" Si Mama bertanya dengan panik.
"Lagi bobo Mam." Jawab saya singkat.
"Oh, Mama pikir kamu sakit."
Sayapun bercerita tentang keseharian saya, diselingi cerita-cerita Mama dan orang-orang di rumah. Tiba-tiba sampai pada topik: ulang tahun saya.
"Deli! Dephina bentar ulang tahun loh. Hahaha. Mama lupa." Yup, si Mama berteriak ke arah Deli, adik saya, yang sepertinya berada di dekatnya.
"Dephina tua loh. Hahaha"

Mengapa waktu tidak pernah berhenti berputar dan mengulang? Detik, menit, jam bahkan tahun terus berulang. Sampai kapan saya dan orang-orang yang saya cintai bisa mengulangi waktu ini? Waktu yang kita habiskan bersama-sama di dunia ini. Satu dasawarsa sepertinya sangatlah singkat. Yah, berapa lama waktu yang saya habiskan 'di luar' jauh dari mereka? Nyaris delapan tahun. Berapa dasawarsa lagi waktu yang saya miliki?



*Curhat colongan Devina hari ini :D

**Halo dalam bahasa Mandarin (喂)


Tampaknya saya akan selalu menjadi 'devina kecil' di dalam benak Mama :) Love you full Mom, you're the best! :D

Sabtu, 13 November 2010

Campuran Kopi Susu

Cappuccino
Cappuccino,
originally uploaded by dephina.

Masih tentang sahabat yang sama, deuh, kok belakangan ini tingkahnya semakin mengerikan. Hahaha. Jarang-jarang loh saya memgeluh :p Bagaimana rasanya menjadi orang ketiga yang harus menyaksikan kejadian ini?

Minggu pagi yang cerah, kebetulan kami bertiga berjalan melewati sebuah kedai kopi ternama.

"Gua ga suka kopi di sini. Pasaran." Keluh seorang sahabat, sebut saja A, seketika kita menghirup harumnya kopi yang menyeruak dari dalam kedai.
"Pasaran kenapa?" Berhubung baru-baru ini saya tergila-gila dengan kopi, otomatis saya bertanya.
"Gua ga suka rasanya, kombinasi pahitnya kopi dan susunya ga balance." Si A menjelaskan dengan ketus.
"Menurut gua itu selera masing-masing." Sahabat saya yang satu lagi, sebut saja B menyahut dengan kalem sambil berlalu masuk ke kedai kopi itu.

Kamipun memesan minuman yang kami inginkan, saya dengan segelas cappuccino dan B dengan segelas espresso panasnya. Bagaimana dengan A? Mungkin karena 'pasaran' (busyet deh, kopi segelas 30 rebu dibilang pasaran) A pun tidak memesan apa-apa.

"Ga mesen apa-apa A?" B bertanya di tengah kesibukannya meniup dan menyesap espresso panasnya.
"Ga deh. Kebanyakan minum kopi bikin gua deg-degan." A pun mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
"Oh.." Jawab B singkat. Sayapun bingung, kok A tidak tergoda dengan semerbak-harumnya kopi yang kami minum yah?
"B, kok elo bisa sih minum espresso yang pahit gituh? Kaya minum jamu aja. Hahaha." Sebenarnya kebiasaan B ini yang lebih membuat saya penasaran. Dibanding kebiasaan-kebiasaan A yang selalu mengkomentari apapun, B selalu diam dan termenung, dia hanya akan menjawab kalau ditanya.
"Hem, justru itu enaknya Dev. Kadang gua juga minum cappuccino atau yang lainnya kok. Cuma kadang gua butuh sentakan dari pahitnya kopi dan aroma kopi itu sendiri, tanpa tambahan susu atau yang lain." B pun tersenyum sambil menghirup aroma kopinya.
"Coba deh Dev.." B mendekatkan cangkir kecilnya ke hadapan saya.
"Baunya enak. Hahaha." Jawaban klise buat penggemar kopi jadi-jadian seperti saya.

Kamipun melanjutkan acara jalan-jalan kami. Kali ini kami melewati sebuah toko sepatu olahraga ternama. B pun berhenti sejenak untuk mengamati sepatu-sepatu yang terpajang di etalase, tertera tulisan SALE (up to) 70%!

"Sori, gua masuk dulu yah." B meminta ijin kepada kami.
"Oh okeh, gua juga mau liat-liat." Sayapun mengikuti B masuk.
"Ah, sama aja. Mau diskon mau engga, harganya ga beda jauh kalau kita beli di Indo." Dengan sinisnya A berkomentar, dengan terpaksa dia mengikuti kami masuk.
"Lumayanlah A, jarang-jarang ada diskon untuk keluaran baru. Walaupun 10-20 persen kalau dikurs bedanya nyaris dua ratus ribu dan belum tentu di Indo ada." B tersenyum sambil mengambil sepasang sepatu dari etalase. Ketika B membalik sepatu dan melihat tag harganya, sayapun ikutan mengintip. Huks. ¥890 (nyaris 1,2 juta rupiah!).
"Alah, dua ratus, tiga ratus ribu mah ga masalah. Itung-itung ongkos kirim." Deuh A, kalau ngomong mbok yah lihat-lihat sekeliling. Dua ratus ribu bisa untuk makan sebulan itu.

Si B pun membeli sepasang sepatu dari toko itu. Setahu saya, B memang 'penggemar' berat merk ternama itu. Beberapa kali saya melihat B memakai model yang berbeda dari 'brand' tersebut.

Belakangan ini saya merasa komentar-komentar A menjadi tidak beralasan, dan seringnya negatif. Sebentar lagi dia akan berulang tahun, saya jadi takut untuk memberikannya hadiah. Dua tahun terakhir, hadiah saya tidak memenuhi standarnya.

"Loe ngasih apaan sih Dev? Jam rusak loe kasih ke gua." Hem, saya tersinggung dengan pernyataan itu karena jelas-jelas jam itu berdetak ketika saya beli. Mana saya tahu kalau baterainya kebetulan habis.

"Sori Dev, tapi gua udah punya barang yang loe kasih itu. Nih, buat loe aja. Elo kan belom punya." Disodorkannya karpet yang saya beli khusus untuk kado ulang tahunnya. Karpet itu baru, bukan barang bekas. Karpet itu ada di kamar saya sekarang. Setiap kali saya melihat karpet itu saya sedih, saya benar-benar tulus dan niat membelikan A karpet itu karena saya berpikir lantai kamar A pasti dingin kalau musim dingin datang. Apa boleh buat, saya keduluan senior saya yang juga memberikan karpet (yang ternyata memang lebih besar, dan karpet saya jadi tampak seperti keset).

Hey, apa A benar-benar tahu banyak tentang hal-hal di atas (dan hal-hal lainnya)? Setahu saya, A selalu diam di kamar, jarang keluar. Kadang ceritanya hanya seputaran acara televisi dan internet. Dulu dia masih mengutip sumbernya "Oh, kemarin gua baca di internet kalau sebagian besar produk 'adadeh' ditarik dari pasaran karena kesalahan cetak". Itu dulu, kalau sekarang A lebih banyak mensensor sumbernya, ingat kedai-kopi-ternama-pasaran itu dong? Kebetulan saya menemukan sumber beritanya di situs pencari, dengan judul berbahasa Inggris. Di paragraf akhir berita itu disimpulkan, walaupun pasaran (karena cabang-cabangnya menjamur di mana-mana), namun sepertinya orang-orang masih akan terus berkunjung ke kedai mereka karena memang belum ada kedai lain yang menyaingi (dengan produk dan strategi pemasarannya yang jempolan). "Kombinasi pahitnya kopi dan rasa susu yang ditambahkan sepertinya tidak sesuai dengan selera saya, karena saya tidak lagi bisa merasakan karakter kopi di dalamnya." Tebak dari mana saya menemukan kutipan kalimat di atas? Ternyata bukan genuine perkataan A seperti sebelumnya, pendapat B ternyata benar "sesuai selera masing-masing". Yup, kutipan perkataan di atas memang saya dapatkan dari blog yang B tulis. Tanpa maksud apa-apa (dan bodohnya) saya mengetikan kalimat yang A katakan, search: kombinasi pahitnya kopi dan susu. Saya kaget karena di antara hasil yang ditemukan mesin pencari itu terkait blognya B (lengkap dengan foto dan deskripsinya)!

Ada hikmahnya juga sih Dev, tentang karpet, mungkin A juga merasakan hal yang sama "kasihan Devina, di kamarnya ga ada karpet" daripada tersia-siakan lebih baik diberikan kepada orang yang membutuhkan bukan? Untuk informasi-informasi yang disampaikan A, walaupun tidak jelas sumbernya (kita tidak akan pernah tahu kalau A benar-benar pernah mencoba, terlibat atau mendatangi sumber) setidaknya A mempercepat proses penyampaiannya, hitung-hitung berbagi berita :D

Jumat, 20 Agustus 2010

Ramadhan

Seorang tetua baru-baru ini memberi nasehat “Devina, janganlah kamu menjadi anak yang sombong. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang abadi, semuanya akan kembali kepadaNya.” Saya bingung, apa yang dimaksudkan si Tetua itu. Selama ini saya menganggap diri saya adalah anak yang baik, jujur, rendah hati dan tidak sombong. Sesuai dengan salah satu ayat tata-tertib SMA saya dulu. Oiyah, saya ingin berbagi kabar gembira untuk teman-teman (yang membaca cerita ini), saya ‘mendapatkan’ kekasih baru. Cuih. Hahaha. Dia lebih tua (dari usia saya), (akan segera) mapan, (lumayan) ganteng dan pastinya kita seprofesi. Hore! Satu lagi tambahan (penting!) bonyoknya kaya dong. Hahaha. Teteup yah Dev, yang dicari yang kaya :p

“Dev, kalian berdua itu hidup di suatu lingkungan, komunitas atau apalah namanya. Dunia bukan milik kalian berdua saja. Hati-hati kalau bertindak dan berbicara.” Tumben si Mama memberikan nasehat bijak dengan bahasa yang santun, apa bulan puasa mengubah sifat si Mama yang biasanya blak-blakan, ceplas-ceplos tanpa rem yang pakem kalau berbicara. Saya menyadari sifat saya yang negatif, selalu menggerutu dan mengkritik setiap orang, karena saya beranggapan ‘tidak ada gading yang tak retak’. Ajaibnya dia yang berada di sebelah saya sekarang ini, juga bersifat mirip-mirip. Kami berdua adalah pasangan ’cynical’, dengan prinsip ‘berdua kita bisa’. Bisa mengkritik dan bisa bertahan walaupun diserang orang-orang di sekitar (sirik tanda tak mampu tuh). Hahaha.

“Satu orang sudah cukup untuk dunia, apalagi sepasang, bisa hancur dunia!” Yah, begitulah pendapat Mama terhadap kami berdua. Mama tidak tahan dengan sifat negatif kami berdua. Kok bisa? Berawal dari sebuah foto yang diunduh adik saya di laman Facebook, judulnya “My First Culinary Experience”. Bisa dibilang fotonya agak-agak blur, tidak fokus dan bentuk makanannya ehem tidak menggugah selera. Sayapun berkomentar dengan jujur sesuai kesan di atas dan ternyata my beloved partner juga berpendapat sama. Adik saya tidak terima dan mengadu ke Mama. Dan yah bisa ditebak, komentar apa yang disemprotkan si Mama kepada kami berdua.

Menurut saya pribadi, Tuhan itu adil dan bijaksana. Kalau memang tidak suka dan benci, yah tinggal membenci dan menjauh, tidak usah munafik dan pura-pura baik kepada kita berdua. “Mam, bukannya sempurna kalau kita berdua menjadi pasangan? Teman-teman tidak usah bingung harus memihak yang mana. Hahaha.” >:) “Tapi Mama lebih seneng kalo seimbang, ada yang memberi dan menerima. Jadi salah satunya bisa mendamaikan hati yang lainnya, kaya Beauty and The Beast. Biar dunia damai, aman dan tentram Devina.” Dasar si Mama, utopian sejati, maunya dunia ini damai selalu. Oiyah, langgeng-langgeng yah Dev sama pasangan barunya. Loh? Mengucapkan selamat untuk diri-sendiri? Sombong sekali. Oh, bukan. Untuk 'Devina' yang lain, yang saya ceritakan di atas.


===


PS1: Mumpung bulan Ramadhan saya meminta maaf atas kesombongan, kemunafikan dan kebohongan yang saya ciptakan di dalam cerita-cerita saya, namanya juga cerita, iyah ga? :D

PS2: Apakah seseorang yang ‘bermulut jahat’ juga merupakan pribadi yang ‘berhati busuk’? Teringat pepatah ‘lidahmu senjatamu’. Hati-hati kalau berkomentar yah Dev :p

PS3: Cerita di atas adalah ilustrasi, untuk teman-teman yang belum mengenal saya secara langsung, jangan takut, saya ga jahat-jahat banget kok ;) Kesamaan tokoh dan peristiwa tidak disengaja.

PS4: Belum muncul, baru sampe PS3 saja :D

Rebuild

Jumat, 28 Mei 2010

Public Enemy

Sepertinya banyak postingan saya bertemakan pesta, kesannya saya party animal banget. Haha. Jangan dibayangkan pesta-pesta yang saya datangi seperti layaknya kisah-kisah selebriti (atau mungkin sebagian besar dari teman-teman pembaca), di club mewah, di pub atau lounge, atau bisa jadi di resto hotel berbintang. Pesta-pesta yang saya datangi biasanya diselenggarakan di kamar seorang teman, food court mall, kedai pinggir jalan, kalau mau mewah sedikit yah di cafe sederhana. Apapun bentuk pesta atau perayaan itu, seandainya saya yang kebetulan menjadi yang punya hajatan, saya berharap semua tamu saya enjoy, bisa menikmati keseluruhan acara, fun dan kenyang! Oiyah, pesta atau perayaan saya di sini sama dengan (=) kumpul dan makan bersama, sharing cerita (mentok-mentok gosiplah) dan kadang diselingi acara photo session :D

Dulu, saya sempat bingung untuk memutuskan siapa-siapa yang akan saya undang. Namun, akhirnya sang waktu yang mengajarkan saya siapa-siapa yang seharusnya diundang dan siapa-siapa yang 'dilewatkan'. Buat apa mengundang teman yang tidak niat datang dari awal, datang hanya sekedar mengkritik, dan malah membuat undangan lain tidak nyaman. Waktu telah mengajarkan saya tentang siapa-siapa yang sengaja berulah itu (tidak tahu berterima-kasih). Saya mengundang, karena saya menganggap dia 'penting', sebagai salah satu teman saya, dan saya ingin dia bersenang-senang. Namun, kriteria kesenangan teman saya ini agak-agak berbeda dengan orang kebanyakan. Yah, sebagai manusia biasa, kemampuan saya terbatas untuk menyenangkan hati semua undangan. Kalau ada satu-dua yang kecewa, mau bagaimana lagi. Masa saya harus memindahkan acara hanya gara-gara satu orang tidak suka dengan dekorasi ruangan. Dia baru datang, masuk, dan tiba-tiba nyeletuk "Norak banget sih hiasannya, kayak acara kawinan ajah!"

Kali ini saya yang menjadi pihak 'annoying' alias menyebalkan tersebut, seperti layaknya tamu yang tidak diharapkan kedatangannya. Apakah saya tamu yang tak diundang? Oh, tentu saja saya diundang. Saya datang pun tidak dengan keadaan terpaksa, dengan senang hati. Saya senang ada teman yang berulang-tahun. Saya datang dengan melenggang bahagia. Lalala. Oiyah, pada saat itu saya tidak membawa kado. Eits, bukan berarti saya pelit dan tidak tahu diri yah. Saya tidak tahu teman saya itu berulang-tahun, dia selalu merahasiakan tanggal lahirnya. Tiba-tiba saya diundang datang ke tempatnya untuk merayakan. Saya senang karena akhirnya dia tidak lagi merahasiakannya dan mau berbagi kebahagiaan di hari ulang tahunnya itu. Saya datang dan mengucapkan selamat, cipika-cipiki, dan saya langsung disuruh makan kue tart! Hah?! Sepertinya ada bagian yang terlewati. Apakah saya datang terlambat? Hem, saya datang 10 menit setelah dia menelpon. Apakah itu dihitung terlambat? Mungkin, karena sepertinya saya yang terakhir datang. "Kuenya dimakan aja Dev" si dia yang berulang-tahun menunjuk ke sebuah meja yang di atasnya terlihat sebuah kue ulang tahun yang sudah terpotong, tertinggal setengah bagian, dan di sebelahnya tampak satu potong kue di atas piring kertas. "Kalo kurang boleh tambah kok."

Saya bengong. Apa selama ini teman-teman saya menganggap saya sebagai orang yang suka sekali kue, cake eater maniac? Dikasih kue sayapun senang. Haha. "Loh, nyanyi-nyanyinya udah yah?" Selugu mungkin saya bertanya. "Ini udah selese kok acaranya." Jawab mereka.

Si Mama yang baik hati, yang selalu membesarkan hati saya beranggapan "Mungkin temen kamu ga enak, kalau seandainya cuma kamu yang ga diundang." Hahaha. Saya tertawa terbahak-bahak waktu itu. "Mama, itu sama aja ga enaknya. Diundang dengan terpaksa atau jelas-jelas ga diundang. Sama-sama menyedihkan." Mama sayapun punya pendapat lain yang ajaib "Mungkin dia mau kado dari kamu. Kado kamu kan biasanya lucu-lucu, mama aja seneng sama sendal yang kamu beliin kemaren." Ah, lagi-lagi si Mama bikin saya tersenyum.

Seorang sahabat pernah berkata "Mungkin kamu menganggap semua orang sahabat kamu, tapi apa kamu yakin semua orang itu menganggap kamu sebagai sahabatnya?" Yah, mungkin sang waktu belum banyak mengajarkan saya tentang sebagian orang itu. Saya hanya ingin dunia ini damai dengan semua penghuninya, semua orang adalah teman, tidak ada musuh di antara kita. Omong kosong! Eh, jangan salah. Apa yang membuat kamu (Devina) begitu 'hina' sehingga kamu dicap jadi teman yang menyebalkan seperti itu? Ngaca Dev! Siapa yang menabur, dia yang akan menuai. Jadi, saya yang salah yah teman-teman? Maafkan saya yah, telah membuat kalian bingung dengan keputusan harus mengundang saya atau tidak. Nah kan, ternyata sang waktu tidak mengajarkan saya apa-apa (atau mungkin sayanya saja yang terlalu lemot, bebal, susah untuk diajarkan). Kalau nanti saya berpesta, kemungkinan besar saya akan mengundang semua. Saya takut karma akan berulang lagi :)

Idealis mampus loe Dev!

Another Cake

Selasa, 27 April 2010

Envy Me (by Gucci)

Terdengar suara ketukan halus. Tok. Tok. Tok. Dia menunggu. Kami mendengarnya di antara percakapan riuh di dalam kamar ini. Terhentilah percakapan kami, Tuan Rumah pun berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuknya. Seberkas lampu kamar menerangi wajahnya di tengah gelapnya lorong. Sebentuk senyum tipis terbersit di bibirnya. Diam. Tuan Rumah mempersilahkan dia masuk dan bergabung bersama kami. “Halo” sapanya singkat diringi senyum tipis. Kekikukan tercipta. Percakapan kami terhenti. Sesaat kami lupa cerita apa yang membuat kami tertawa terbahak-bahak tadi. Udara di sekitar kami sepertinya mendadak berkurang. Sesak.

Dia adalah sahabat saya, teman saya, dan saya tidak membenci dia. Hanya saja keberadaannya membuat saya dan teman-teman lainnya merasa tidak nyaman. Dia yang duduk dalam diam, yang sesekali tersenyum mendengarkan cerita kami. Dia yang menantap kami dengan seksama, memperhatikan gerak dan tingkah-laku kami, seperti menghakimi dan menilai. Tatapan matanya membuat saya salah tingkah. Tatapannya seperti memilah-milah masa lalu kami, menyudutkan, mengejek dan mengadili kami. Sekali lagi, saya tidak membenci dia.

Kehadirannya menyedot semua perhatian kami, seperti lubang hitam tanpa dasar. Iya, hitam, seperti kegelapan malam dengan segala misteri di dalamnya. Kadang dia datang hanya dengan selendang dan kain, di lain waktu dia datang dengan kemewahannya. Apapun bentuknya, kami tidak merasa dia aneh, seperti itulah bentuknya. Pemahaman itu tidaklah membuat kami terbebas dari perasaan tertekan dan bersalah ini. Rasanya saya ingin berlari dan menghindarinya, menjauh darinya.

Di suatu kesempatan saya ‘terperangkap’ hanya berdua dengan dia. Di dalam ruangan yang ramai dengan suara tawa dan jeritan-jeritan melengking, dia diam. Saya menatapnya. Saya diam dan menatapnya. “Hai” dia menyapa saya dengan suaranya yang halus, seperti suara-suara ketukannya. Saya mendengarnya, sapaan singkatnya seperti denting halus genta kecil di antara gemuruh badai. Kesadaran saya akan keberadaannya menyedot semua kekuatan dan perhatian saya. Tatapan lurus matanya seperti pusaran beliung. Terhipnotis tatapannya, sayapun mulai bercerita. Terdengar suara tawa membahana dari satu sudut, entah di mana. Udara di sekitar kami tidak lagi menyesakan, saya bernafas dengan bebas. Hening, saya hanya mengingat senyumnya, tepukan halus tangannya di pundak saya, dan belaian lembutnya di sela-sela cerita-cerita saya. Kekuatan. “Pinjami saya kekuatan, agar saya bisa berdiri dan melangkah lagi” pinta saya kepadanya di akhir cerita saya.

Senin, 14 Desember 2009

Cake Eater

Semoga tidak menjadi suatu kesalahan (fatal) untuk jiwa saya yang labil. Dia maunya serba sempurna. Saya menjadi takut, takut salah, takut tidak memenuhi standarnya. Untungnya beberapa tahun bersama, pilihan saya selalu tepat. Untuk makanan selalu enak, untuk suasana tidak ada yang bisa mengalahkan (keromantisannya), dan untuk harga, yah itu sih menjadi beban saya sendiri.

Sopan santun atau menghargai. Saya sudah ditraktir makan, selain mengucapkan terima kasih, saya juga tidak lupa mengatakan "Kok ga enak yah? Nasinya keras, lauknya keasinan." Memang saya pernah mentraktir dia? Belum.

Hadiah. Sama, saya juga akan mengucapkan terima kasih, dan untuk tahun berikutnya pilih saja salah satu mug bekas koleksi di dapur saya sebagai balasannya, yang penting kan memberi dan ikhlas.

Saya takut dengan mereka, tuntutannya tinggi, maunya banyak.

Cakenya harus enak, lembut, cokelat dan krimnya tidak boleh membuat eneg, harus ada buah-buahan di antara layer cakenya. Kalau tidak sesuai? Siap-siaplah menerima cercaan. "Cakenya aneh rasanya. Aku ga mau krimnya yah, eneg." Nah loh. Saya ambil lagi cakenya, menyisihkan krim di atasnya dan siap-siap mendengarkan analisa rasa cake selanjutnya. Argh.

Semoga tahun ini tidak.

Jumat, 11 Desember 2009

Kurcaci

Mama menyebutnya sebagai 'nenek kecil keriput' yang suka menyuruh. Saya lebih suka menyebutnya 'setan kecil' yang selalu menghasut saya untuk membenci apapun. Apapun sebutannya efeknya tidak baik untuk saya dan orang-orang di sekitar.

===

Saya resmi menjadi kurir door-to-door. Tapi saya tidak menjamin paket Anda sampai dalam waktu kurang dari setengah jam. Saya bukan tukang antar pizza. Sayapun tidak menjamin waktu yang leluasa untuk Anda. Itu juga tidak dijamin oleh tukang antar barang profesional, bahkan kantor pos pemerintah. Setahu saya, kalau saya mendapatkan kiriman barang, tukang pos atau jasa pengirimnya akan menelpon saya dan memberitahukan kalau ada paket. Jika ingin diantar sampai ke tempat saya, maka mereka akan memberi-tahu kapan tepatnya. Sayapun mau tidak mau pulang lebih cepat dan menunggu. Berbeda kalau saya ingin mengambilnya langsung di pusat pengiriman, seperti kantor pos pusat misalnya, waktu tidak menjadi masalah, asalkan masih hari dan jam kerja/ waktu operasional mereka.

Saya hanya kurir, perantara, tidak perlu tahu apa masalahnya, beritahu saya maka saya akan dengan senatiasa mengantarkannya untuk Anda. Oh, dan waktu pengiriman bisa disesuaikan dengan jadwal Anda. Bebas biaya (apapun) loh.

Ah, maafkan hati saya yang kerdil ini, kurang peduli terhadap sekitar, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Mana tahu kalau ada saudara yang sakit dan yang membutuhkan bantuan. Saya hanya tukang antar, yang kerjaannya murni mengantarkan barang tanpa tahu problematika di dalamnya. Haha. Butuh imbalan yah? Maaf, maaf, maaf. Saya memang selalu meminta, tidak pernah memberi. Ingat? Saya selalu menjadi 'peserta' pertama yang datang ketika seorang teman membagi-bagi barang, dan jangan salah, saya selalu meminta yang lebih, lebih besar, lebih mahal dan lebih banyak. Maaf, maaf, maaf. Sayapun tidak akan membaginya dengan yang lain. Saya kenal 'Tuan Gubernur' yang terhormat dengan segala kekuasaannya, dan saya akan tetap diam seribu bahasa. Dia adalah 'kunci' saya.

===

Menjelang hari kelahiran, berkurangnya jatah usia saya, juga mendekati Natal dan pergantian tahun, hati saya kalut. Maaf, kalau saya menjadi sinis dan pesimis-> permohonan maaf untuk diri-sendiri :)

Selasa, 03 November 2009

Unconditional

A: "Kamu butuh apa?"
a: "Saya tidak butuh apa-apa."
A: "Coba dipikir-pikir lagi, kebetulan saya punya banyak barang yang akan dibuang."
a: "Yakin, saya tidak butuh apa-apa."
A: "Bukankah kamu butuh terang?"
a: "Iya, saya butuh terang tapi saya sudah punya."
A: "Tambahkan saja."
a: "Terserah kamulah."

Terang itu tidak saya dapatkan sampai saat ini. Entah apa yang ada di dalam benak A ketika dia menawarkannya kepada saya. Bukan hanya terang, juga arah, dasar, tujuan dan lain sebagainya. Dia hanya sekedar menawarkan, basa-basikah? Kalau memang ingin memberi, berikan saja langsung. Oh, saya lupa A pernah memberikan barang secara langsung kepada saya, tanpa ba-bi-bu, tanpa menunda-nunda dan akhirnya lupa.

A: "Nih, gw udah ga butuh." Disodorkannya sebuah sepeda tanpa roda depan kepada saya. Setahu saya, kota ini tidak memungkinkan kita untuk bersepeda dengan bebas, lalu-lintasnya terlalu ramai, penuh sesak dengan bus-bus besar, selain itu kontur tanahnya juga naik-turun. Apakah saya butuh sepeda?

Oiyah, saya lupa (lagi), A juga pernah memberikan 3 bungkus mie instant dengan cuma-cuma.

A: "Kebanyakan belinya, waktu itu diskon."
a: "Kok ga diabisin aja?"
A: "Engga ah, rasanya aneh. Cobain aja."

Saya pun dengan terpaksa menerima sumbangan mie instant tersebut, sebenarnya saya juga tidak suka dengan mie instant. Ketika 3 bungkus mie instant itu sampai ke tangan saya, sontak saya bersin. Debu-debu itu menari-nari di depan mata saya. Saya perhatikan baik-baik bagian belakang kemasan mie instant tersebut. Argh. Apalah artinya 6 bulan lewat dari masa kadaluarsa mie instant dengan rasa aneh ini, apakah bisa menambahkan keanehan rasanya?

Senin, 02 November 2009

My World

Ingat, di atas langit masih ada langit. Jangan gegabah dan sombong. Saya tahu kamu pintar tapi belum tentu kamu tahu segalanya. Ketika orang lain berusaha mengutarakan pendapatnya, kau katakan "Nanti dulu!" Dengan gayamu yang khas, tanganmu menepis, mengisyaratkan orang itu untuk diam. Sungguh aneh. Setau saya rasa kopi itu pahit. "Nanti dulu!" Saya tahu karena setiap hari saya minum kopi, bukan kecanduan, saya suka aromanya.

Tuan Puteri, ceritamu keterlaluan. Bukan apa-apa, sumber awal cerita itu yah saya yang menyebarkan. Bisa-bisanya Tuan Puteri mengaku-aku menjadi dia dan berkata-kata seperti dia.

"Berpakaianlah yang rapi dan sopan" begitu Tuan Puteri menitahkan kami (sahabat-sahabatnya yang entah bagaimana dianggapnya sebagai hamba-hambanya).
Seorang sahabat datang dengan gaun yang indah menurut saya (dan sopan). Memang sahabat saya yang satu ini selalu tampil menawan dalam setiap kesempatan. Penampilannya selalu sesuai dengan acara dan kesempatan. Pembawaannya pun anggun dan pandai bergaul, dengar-dengar sejak kecil dia memang sudah 'dilatih' dan dipersiapkan sebagai puteri bangsawan. Entah dia bangsawan atau bukan. Dia tidak menganggap kami, sahabat-sahabatnya sebagai hambanya. Bahkan, kadang dia sama seperti kami, menjadi 'hamba' untuk 'Tuan Puteri'.

"Baju loe ga sopan, harus pakai kemeja berkerah dan rok" Tuan Puteri menudingkan tangannya ke arah sahabat saya. Tadinya saya juga mau mengenakan gaun, sepertinya lebih cocok untuk acara di ballroom hotel mewah seperti sekarang, bukannya di ruangan rapat di kampus. Sahabat saya yang anggun dan bergaun itu pun tidak membantah Tuan Puteri, dia tersenyum dan melangkah masuk ke dalam ballroom. Kami pun menyusul masuk. Pintu terbuka di hadapan kami. Jreng. Kami tampak aneh di sana, kampungan, tidak pada tempatnya.

'Jangan mengaku-ngaku sebagai orang besar di antara orang-orang besar lain. Malu-maluin.'

Rabu, 22 April 2009

Di Depan Mata

Hey, kenapa kamu diam saja?
Takut salah ngomong?
Takut ketauan?
Apa salahnya sekedar menyapa?

Hai!

Minggu, 12 April 2009

Menghilang kemudian menjadi terang.
Seperti bintang kah?

Senin, 06 April 2009

Hilang

Keberadaan mu semakin menghilang.
Bagi manusia-manusia lain.
Namun, nyata bagi kami-kami.
Ketiadaan.

Di mana?
Siapa?
Apa?

Mengapa semua dipertanyakan?
Membutuhkan jawaban.

Tidak jelas.

Jumat, 13 Maret 2009

Ambil Saja

I gave my heart (again).
You took it from me.
Empty. Nothing left.

Beri kabar kalau memang butuh. Aktifkan handphone kalau memang ingin.
Kalau tidak ada kepentingan yah suka-suka.

Sori yah gw orang penting!


Rabu, 11 Maret 2009

Mau Tau Aja


Haruskah di share yang dengan yang lain?
(setting mode: private)

Jumat, 27 Februari 2009

Found Out


Aman. Area yang aman, tidak diketahui, tidak tampak.
Terbuka. Ke mana harus bersembunyi yah?

Rabu, 18 Februari 2009

Shaman


"Gimana kalo kita.."
"Ke sana?" Jana menunjuk ke arah toko kecil berisikan pernak-pernik lucu.
"Iyah. Kok elo tau sih Jan?"
"Ah, keliatan lagi dari tampang loe." Jana tersenyum sambil menarik tangan gw ke arah toko itu.
Biru. Hijau. Biru. Hijau.
"Yang ijo bagus Dev." Tiba-tiba Jana nongol di balik pundak gw.
"Iyah nih Jan, gw bingung, biru keliatan terang tapi yang ijo warnanya lebih bagus."
"Kalo menurut gw yang ijo emang warnanya lebih bagus Dev. Lagian bukannya elo takut cepet kotor juga kalo misalnya milih yang biru?" Jana menjelaskan.
"Iyah! Kok elo tau sih Jan?"
Haha. Jana tertawa. "Gw temenan sama loe udah berapa lama sih Dev?"

'Elo gpp kan Dev?' Sms sederhana yang dikirimkan Jana semalam, tepat sebelum gw tertidur karena kecapekan nangis.

Nah, untuk kasus yang terakhir, sms itu apa Jana akan beralasan kalau dia benar-benar tahu kebiasaan gw? Atau bisa juga karena kita sudah berteman lama dan terjadilah 'kontak batin' di antara kita yah? Hem, tapi serem juga punya temen kaya Jana. Dia (kadang) bisa menebak apa yang akan kita lakukan atau katakan. Sepertinya pikiran Jana dua-tiga (atau mungkin lebih) kali lipat lebih cepat dari pikiran gw. Kadang gw kepikiran sesuatu, ide atau ingatan itu udah ada di dalam otak gw tapi kok susah banget buat dikeluarin. Nah, si Jana ini tiba-tiba bisa mengutarakan sesuatu yang mirip-mirip, nyerempet-nyerempet atau berujung-ujung ke pemikiran gw tadi. Gw ga tau deh, dia itu emang pinter banget, bisa menebak situasi, atau memang dia bisa 'masuk' ke dalam pemikiran gw yah?

Label

cerminan (23) daily (11) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)