Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

The Curious Case (not for) Benjamin Button


Untuk seseorang yang beberapa hari ini mengintip-intip isi hati saya (melalui tulisan-tulisan di blog ini). Cie, ada yang ngerasa tuh. Hahaha. Hello, stranger! :D


Beijing, 19/08/2011
“You must be eighteen years old!”
“Yeah, you take this trip as your graduation achievement, before you spend your whole time in college, right?”
“Brave girl.” The three of them nod their heads.
“So, you can’t go with us to that White House Club.”
“If you’re twenty one, we can drink together. Hahaha..” 

Tiga orang lelaki berkebangsaan Amerika, Inggris dan Argentina. Tiga-tiganya mengaku berusia ‘thirty-something’, bertampang charming dan care. Satu bekerja di kilang minyak di Texas, satu bekerja kantoran di Inggris dan saya lupa apa pekerjaan si cowo Argentina itu. Kenapa menurut saya mereka care (atau jangan-jangan mereka pedophile yah?!)? Yah iyalah, kalo engga care, ngapain juga mereka mengajak saya, yang menurut mereka baru berusia belasan tahun, bergabung dengan mereka yang secara sudah 'om-om' dan berbincang-bincang panjang-lebar (yang mostly tentang mereka, duh). Mereka bilang, mereka merasa kasihan melihat saya yang berkeliling gedung pertunjukan akrobat sendirian dengan tas ransel dan kamera. Menurut mereka, saya tampak tersesat. Hahaha. Padahal saya sedang mencari-cari sudut menarik untuk difoto sambil menunggu pertunjukkan dimulai. Akhirnya, mereka memanggil dan mengajak saya bergabung di lounge khusus untuk bule-bule di lantai dua gedung pertunjukan. 

“How can a little girl like you choose China as your trip destination?”
“Don’t you feel afraid? Because nobody can speak English here?”
“Eh, are you Chinese?”

Om-om maaf yah, umur saya bukan delapan belas tahun, bukan baru lulus SMA dan bukan native-Chinese. Dan setahu saya, umur legal yang diperbolehkan untuk mengkonsumsi alkohol di China adalah delapan belas tahun. Jadinya mau umur saya ‘masih’ delapan belas atau dalam umur saya yang sebenarnya, saya tetap diijinkan 'minum-minum'. Yah, tapi pada saat itu saya lebih memilih kembali ke hotel dan tidur. Capek, seharian keliling kota. Oiyah, sampai akhir perjumpaan saya dan om-om itu, mereka tetap tidak tahu berapa umur saya. Sedangkan saya tahu, kalau satu dari mereka akan menikah, satu dari mereka ingin menginventasikan uangnya di bidang properti dan yang satunya lagi masih belum mau menikah karena mengaku masih suka hura-hura. 


As an illegal tour guide/ translator :D

Oiyah, om-om nya ga ada di foto ini. Saya takut mau foto sama om-om nya, takut mereka ge-er. Soalnya sepanjang perbincangan saya dan mereka, ketiganya selalu membangga-banggakan diri. How great their country comparing to China, how handsome they are in person (ini beneran, karena satu-satu dari mereka tanya ke saya: saya gantengkan, saya macho kan, pasti kamu terkesima dengan tampang saya yah), dan how-how lainnya. Lihat dua cowo bule di atas? Mereka berkebangsaan Jerman, satu dari Jerman Barat dan satu dari Timur. Mereka juga salah menduga umur saya.

What?! You are not nineteen or twenty like us?
We thought, you are on summer break like us. 
Oops. Sorry boys, actually I'm a lot older than you are (lebay) :p

Duh, maap yah kalo ada yang tersinggung, tiba-tiba teringat pengalaman saya waktu backpacking di China dan ceritanya mirip-mirip kejadian sekarang-sekarang ini ;)


Sekedar Selingan:

"I am 16 going on 17
I know that i'm naive
Fellows I meet may tell me I'm sweet
And willingly I believe

I am 16 going on 17 innocent as a rose
Bachelor dandies
Drinkers of brandies
What do I know of those"

(Leisl on Sound Of Music movie, Sixteen Going On Seventeen)

Yang baca ini pasti pengen nabok saya (atau paling engga jadi eneg dan pengen muntah), wake up little girl, ingat umur nak! :D





Senin, 02 Mei 2011

Ini Inu


Masih tentang si Inu, dari cerita sebelumnya. Mungkin si Mama sendiri sudah lupa tentang kejadian itu, tapi entah mengapa si Inu terus beredar di benak saya. Dulu, dulu sekali ketika saya masih SMP, beberapa orang teman pernah berkomentar tentang 'kesombongan' si Inu. Seingat saya, Inu baru pindah ke SMP yang sama dengan saya pada tahun ke 2, kepindahannya sempat menjadi 'buah bibir' di sekolah. Sayapun penasaran dengan si 'anak baru' ini, berniat kenalan langsung, yah paling tidak saya tahu 'bentuk' nya seperti apa. Tanpa malu-malu kucing, sayapun mendatangi teman saya yang kebetulan sekelas dengan dia. Nah, dari teman saya inilah, saya tahu kalau Inu tipikal anak yang 'sombong'.

"Iyah Na, belom apa-apa udah cerita kalo sodara-sodaranya tinggal di luar
negeri." Begitu cerita teman saya.
"Terus katanya, tas yang dia pake sekarang oleh-oleh dari Tantenya yang tinggal di Amerika."
"Elo yakin mau kenalan sama dia Na?" Teman saya menatap aneh.
"Haruslah Ta, gue kan anak gaul. Gue harus kenal semua orang di sekolah ini, Ta. Hahaha." Geli sendiri saya mengakuinya :D

Tapi sayangnya sampai beberapa bulan kemudian saya tidak pernah bisa bertemu langsung dengan Inu, paling-paling saya melihatnya sekilas. Sayapun akhirnya lupa dengan niatan saya berkenalan langsung, dan Inu pun sudah bukan lagi 'anak baru' di sekolah saya.

"Ta, gue mau nagih uang APP* kelas loe nih. Berapa?" Yup, Tata memang bendahara kelas dan saya, bisa ditebak, di jaman itu sayalah 'debt collector' nya. Hahaha. Bukanlah, kebetulan waktu SMP saya menjabat sebagai bendahara OSIS :) Ketika saya sedang menunggu Tata di depan pintu kelasnya (waktu istirahat pertama), tiba-tiba tuing-tuing-tuing si Inu melintas di depan saya, entah dari mana.

"Hai, Inu yah?" Sayapun mengulurkan tangan, bersiap-siap mejabat tanganya(resmi bener Dev).
"Iyah, Devina kan?" Si Inupun menjabat tangan saya, dan anehnya dia tahu saya!
"Kok tahu?"
"Mamaku itu temen SMA mama kamu Dev, terus Rudi itu sepupuku." Malu-malu si Inu menjelaskan (bukan imajinasi gue yah, Inu emang ngomongnya sambil nunduk-nunduk gituh, suaranya pelan banget. Terus berhubung dia putih, mukanya bener-bener keliatan bersemu merah gituh, wuih).
"Terus kok bisa tahu aku?"
"Mamaku sama mamanya Rudi suka cerita tentang kamu."
"Oh.."
"Nih, sepuluh rebu lima ratus!" Tiba-tiba Tata menyodorkan 'segepok' uang dan selembar kertas. Sayapun segera menuliskannya di buku bendahara dan menanda-tangani kertas yang disodorkan Tata.
"Makasih Ta.." Dan Inu pun menghilang, maksudnya dari hadapan saya, masuk ke kelas dan sibuk ngobrol dengan teman-temannya.

Rudi itu siapa sih? Saya kenal dia sejak SD, mamanya adalah teman SD-SMP-SMA mama saya. Walaupun kita bukan teman dekat, tapi lingkungan rumah dan sekolah kita sama, yah mau ga mau sama-sama tahulah. Kok saya bisa tidak tahu tentang keberadaan Inu? Setelah saya tanya-tanya ke Mama, ternyata Inu adalah anak dari kakak mamanya Rudi, dan tinggalnya di Depok, bukan di Pasar Minggu (daerah rumah dan sekolah saya).

Apakah sejak perkenalan itu, saya dan Inu menjadi teman baik? Ehem, sayangnya engga. Seingat saya sejak saat itu saya tidak pernah lagi ngobrol sama Inu, paling-paling sekedar menyapa dan itu jarang, dan sayapun tidak pernah sekelas dengan Inu. Kenapa sih tiba-tiba saya bercerita tentang kisah 'ini'? Yah, karena tiba-tiba teringat saja, sekalian mengingat-ingat apakah saya pernah berbuat 'dosa' sama Inu, sampai-sampai Inu berani memastikan masa depan saya (dengan suramnya). Hahaha. Eits, ini bukan cerita saya kesemsem sama Inu yah, lagian saya masih 'normal', saya masih menyukai 'pria-pria cantik'. Huahaha. Bagaimana dengan Inu, 'normalkah' dia? Sepertinya 'normal', setahu saya kekasih Inu berjenis kelamin pria. Yakin Dev? Emang kamu pernah ngecek? Hem, ga beranilah. Bisa-bisa 'masa depan saya yang suram' berubah menjadi sesuatu yang lebih 'buram' dengan embel-embel perawan tua di belakangnya (Hua! Amit-amit jabang bayi, ketok-ketok meja tiga kali!). Seandainya 'Inu' membaca cerita ini, Devina cuma bercanda kok :D

*Aksi Puasa Pembangunan
**Inu itu perempuan, dan seperti biasa Rudi itu bukan nama sebenarnya :)

Selasa, 05 April 2011

(Anak) Lelakiku

"Ini anakku yang pertama.." Bisiknya perlahan, samar-samar aku melihat wajah anaknya, sepertinya lelaki.
"Jagoanku.." Lagi dia berbisik perlahan, takut-takut dia membangunkan 'jagoannya'. Dia tersenyum, akupun membalas senyumnya, dalam tidurku.

'Kalau jadi pergi, jangan lupa untuk kembali lagi. Ingat rumah. Selalu hati-hati dan jangan lupa berdoa.' SMS terakhir darinya, jawaban dari SMS terakhir dariku. Setelah lama tidak tahu kabarnya, aku mencoba untuk menghubunginya lagi, hanya sekedar mengabarkan kalau aku akan kuliah ke luar negeri. Tidak ada maksud apa-apa. Dari sekian banyak teman dan kerabat, di saat-saat terakhir keberangkatanku, aku teringat dia.

"Nanti kalau kamu sudah benar-benar menjadi perempuan dewasa, berduit seperti Mamamu, pasti aku sudah menghilang entah ke mana."
"Kenapa harus menghilang?" Tanyaku polos.
"Karena tidak mungkin selamanya aku di sini." Dia tersenyum, tatapannya tetap lurus ke depan, lampu merahpun berganti hijau.
"Bukannya aku masih bisa SMS, telpon, atau kirim email?" Sepanjang jalan, aku berusaha menyerap sebanyak mungkin kenangan tentangnya, senyumannya yang sinis, jari-jari tangannya, matanya, suara tawanya, wanginya, semuanya.
"Oh yah?! Hahaha." Ah, itu dia kata-kata khasnya, ketika dia menyangsikan perkataanku, dibarengi alis matanya yang terangkat sebelah.
"Kalo nanti kamu kerja, dan gajimu sudah sebesar gajiku sekarang, jangan pernah lupakan hari ini." Senyum itu lagi.
"Kok kamu yakin kalo aku ga berniat nurunin usaha Mama?"
"Kamu mau?!" Tiba-tiba pandangannya beralih ke arahku dan diapun tergelak tertawa.
"Siapa tau!" Dengan sinis aku membalasnya, kali ini aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela, memperhatikan titik-titik air hujan yang membasahi jalan.
"Semoga banjir, dan kita terjebak di sini, tidak harus bergerak." Dia, seperti membaca pikiranku dan menyuarakan benakku. Akupun menunduk, mengamati rok seragam kucelku.
"Tapi.. Kalo nanti aku kebelet pipis gimana?" Aku menatapnya dengan serius.
"Huahaha. Dasar anak kecil! Ga bisa diajak romantis kamu!"
Yah, sayangnya perjalanan terus berlanjut, tanpa banjir dan tanpa macet.

Aw, sepotong kisah 'cerpen remaja' jaman baheula. Hahaha. Oiyah, 'dia' bukan supir saya yah, siapa tahu ada yang berkesimpulan ke sana :D


Label

cerminan (23) daily (11) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)