Selasa, 05 April 2011

(Anak) Lelakiku

"Ini anakku yang pertama.." Bisiknya perlahan, samar-samar aku melihat wajah anaknya, sepertinya lelaki.
"Jagoanku.." Lagi dia berbisik perlahan, takut-takut dia membangunkan 'jagoannya'. Dia tersenyum, akupun membalas senyumnya, dalam tidurku.

'Kalau jadi pergi, jangan lupa untuk kembali lagi. Ingat rumah. Selalu hati-hati dan jangan lupa berdoa.' SMS terakhir darinya, jawaban dari SMS terakhir dariku. Setelah lama tidak tahu kabarnya, aku mencoba untuk menghubunginya lagi, hanya sekedar mengabarkan kalau aku akan kuliah ke luar negeri. Tidak ada maksud apa-apa. Dari sekian banyak teman dan kerabat, di saat-saat terakhir keberangkatanku, aku teringat dia.

"Nanti kalau kamu sudah benar-benar menjadi perempuan dewasa, berduit seperti Mamamu, pasti aku sudah menghilang entah ke mana."
"Kenapa harus menghilang?" Tanyaku polos.
"Karena tidak mungkin selamanya aku di sini." Dia tersenyum, tatapannya tetap lurus ke depan, lampu merahpun berganti hijau.
"Bukannya aku masih bisa SMS, telpon, atau kirim email?" Sepanjang jalan, aku berusaha menyerap sebanyak mungkin kenangan tentangnya, senyumannya yang sinis, jari-jari tangannya, matanya, suara tawanya, wanginya, semuanya.
"Oh yah?! Hahaha." Ah, itu dia kata-kata khasnya, ketika dia menyangsikan perkataanku, dibarengi alis matanya yang terangkat sebelah.
"Kalo nanti kamu kerja, dan gajimu sudah sebesar gajiku sekarang, jangan pernah lupakan hari ini." Senyum itu lagi.
"Kok kamu yakin kalo aku ga berniat nurunin usaha Mama?"
"Kamu mau?!" Tiba-tiba pandangannya beralih ke arahku dan diapun tergelak tertawa.
"Siapa tau!" Dengan sinis aku membalasnya, kali ini aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela, memperhatikan titik-titik air hujan yang membasahi jalan.
"Semoga banjir, dan kita terjebak di sini, tidak harus bergerak." Dia, seperti membaca pikiranku dan menyuarakan benakku. Akupun menunduk, mengamati rok seragam kucelku.
"Tapi.. Kalo nanti aku kebelet pipis gimana?" Aku menatapnya dengan serius.
"Huahaha. Dasar anak kecil! Ga bisa diajak romantis kamu!"
Yah, sayangnya perjalanan terus berlanjut, tanpa banjir dan tanpa macet.

Aw, sepotong kisah 'cerpen remaja' jaman baheula. Hahaha. Oiyah, 'dia' bukan supir saya yah, siapa tahu ada yang berkesimpulan ke sana :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)