Minggu, 14 Agustus 2011

Pulang Kampung



How to ask your daughter to come home? By Mam.

"De.. Phi.. Na.. Kamu kapan pulang?"
"Dua minggu lagi Mam."
"Dari kemaren kok dua minggu terus?"
"Lah, kemaren Mam telpon aku kan hari Senin, sekarang masih hari Rabu. Berartikan masih tetep dua minggu."
"Tapi kamu udah beli tiketnya kan?"
"Udahlah Mam, kan waktu itu aku udah bilang."
"De.. Phi.. Na! Kok lama banget pulangnya?"
"Sabar Mam. Aku pasti pulang kok."
"Oiyah, tanggalnya udah pastikan yah?"
"Iyah, emang kenapa Mam?"
"Mama udah beli tiket buat besoknya."
"Maksudnya Mam?"
"Mama udah booking tiket pesawat buat kita jalan-jalan."
"Hah?!"
"Iyah, makanya kamu pulang. Kalo ga sia-sia tiketnya."
"Eh, emang mau ke mana Mam?"
"Ntar juga kamu tau sendiri."
"Eh?!"

Ini beneran apa boongan yah? Yeah, cara yang bagus, Mam. Memikat, menarik, bikin penasaran dan mengharuskan saya pulang!

Berantakan. Persiapan mudik Lebaran.

Argh. Cukup ga yah?




'All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

...

'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go

...

(Leaving on The Jet Plane)

Kamis, 04 Agustus 2011

"I am lost without LOVE"

Tiga kali ketemu si Mbak berkaos krem bertuliskan kata-kata di atas. Di jalan turunan depan rumah sakit, tangga turun dan terakhir kali pas jam pulang, lagi-lagi di tangga rumah sakit. Duh Mbak, pantes aja selama ini saya 'nyasar' terus! Butuh 'love' sebagai kompas penunjuk arah dan pembimbing ke jalan yang benar ternyata : D

Sabtu, 02 Juli 2011

Head-In-The-Clouds


'Beautiful girl..'

Permisi Tante Cantik, maaf tulisan terakhir saya sepertinya menyinggung perasaan Tante. Terlebih lagi tulisan itu membuat saya 'terdengar' tidak cerdas, alias bodoh dan tidak terpelajar. Maaf Tante Cantik, kemampuan telepati saya masih belum terasah sepenuhnya. Nanti kalau ada kesempatan saya akan mencari Prof. X untuk berguru padanya. Duh, saya lupa kalau Prof. X sudah tiada, tewas terbunuh di episode The Last Stand (atau koma yah?).

Saya tahu Tante Cantik tahu segalanya, minder saya berada di dekat Tante Cantik. Tapi apa boleh buat Tante, keadaan saya yah seperti ini, dekil, kucel, bau dan tidak tahu apa-apa (serta lamban pula). Berbeda dengan Tante Cantik yang selalu harum, cantik dan kelihatan kinclong. Makanya saya maklum ketika Tante memutuskan untuk menjauh dari saya (selalu berada 3 langkah di depan, wajib hukumnya). Hiks. Memang tidak sepadan sepertinya.

"Bukan begitu!"
"Jangan!"
"Ga bisa!"
"Salah!"
"Engga boleh!"

Tante, saya belum sempat mengutarakan pendapat saya, tapi Tante Cantik sepertinya selalu tahu kalau pendapat saya pasti salah. Maklum saya anak pedagang, bukan anak seorang cendekiawan yang setiap harinya berkutit dengan buku dan pengetahuan.

'I'm just a girl..'

Tante Cantik, jangan galak-galak dong. Takut saya. Katanya Tante Cantik adalah seorang wanita yang lemah-lembut, tapi kok kalau berbicara kepada saya selalu dengan nada tinggi dan membentak. Kalau nanti orang lain tahu, image Tante bisa berubah loh. Maaf Tante, gara-gara kelambanan saya Tante jadi emosional.







Tante cantik deh, ci ci cuit...

Bang!

Rabu, 22 Juni 2011

Coffee for Two


Dia bilang "saya cantik.." Oh, yang dimaksud bukan 'saya' tapi dirinya sendiri. Hahaha. Yah, dia 'cantik', menurutnya. Berkali-kali saya bertemu dengan orang-orang bertipe seperti ini, mereka yang memiliki percaya diri sangat tinggi. Tidak ragu-ragu mereka menyatakan diri mereka sendiri sebagai 'wanita mandiri yang supel, cantik, seksi dan mapan'. Pingin rasanya saya mempertemukan teman-teman yang bertipe seperti ini di dalam satu kesempatan. Apa kiranya yang akan mereka bicarakan yah?

Satu teman saya memang seorang model, tapi bukan super model. Beberapa kali dia ikut kontes kecantikan, biasanya dia tersaring di tahap-tahap awal penjurian tapi sayangnya hanya sampai situ. Tapi memang dia 'cantik', berpostur bagus dan berpenampilan menarik, dari kalangan 'jet setter' pula. Dia salah satu 'klien' setia saya, kalau kebetulan saya pulang kampung, dia pasti langsung menghubungi saya untuk mengatur jadwal bertemu. Biasanya dia akan mengajak saya (mentraktir lebih tepatnya) ngopi-ngopi di 'warung kopi' mewah. Gelas per gelas cappuccino, latte bahkan ice lemon tea terus mengalir bergantian dengan cake dan snack ringan yang saya pesan. Si dia terus bercerita. Sesekali saya berkomentar dan menyatakan pendapat. Si dia hanya minum segelas-dua gelas kopi hitam pekat sambil mendengarkan dengan serius pendapat-pendapat saya. Kok saya betah? Cerita si 'dia' ini menarik dan jarang terjadi di dalam kehidupan saya, bahkan dalam kehidupan nyata sekalipun. Saya 'suka' kepribadiannya, walaupun ceritanya selalu tentang dirinya tapi dia bercerita dengan penuh gairah dan saya tidak pernah bosan mendengarkannya bercerita (baca: berkeluh-kesah). "Amit-amit deh Dev, walaupun dia manajer bank tapi tampangnya ga enak diliat, supirku aja masih lebih enak diliat!" Dia menyeruput kopi pahitnya sambil mengetuk-etuk meja kayu di depan kami.

Beda lagi dengan seorang teman yang selalu menyempilkan kata cantik, anggun, dewasa, feminin dan kata-kata sejenisnya itu untuk mendeskripsikan dirinya dan tindakan yang dilakukannya. "Permisi, wanita cantik mau lewat." Begitu katanya ketika dia melintas di hadapan saya. "Yah iyalah, wanita anggun ga mungkin duduk ngangkang." Suatu kali si dia mengomentari cara duduk saya, dan dengan sigap dia mencontohkan cara duduk wanita anggun yang benar. Teman saya ini juga suka bercerita dan menceritakan ulang cerita teman-temannya, dia juga selalu berusaha untuk membuatnya menarik. Tapi yah.. Tetap saja membosankan. Ceritanya biasanya kutipan (entah dari mana), dia jarang meminta pendapat atau mendengarkan komentar pendengarnya. Ketika saya ingin berkomentar, dia akan bilang "Bentar dulu, gue bla bla bla.." atau "Dengerin gue dulu.." Sayapun mendengarkan dia bercerita sampai selesai dan saya lupa mau berkomentar apa. Hahaha. Apakah si dia cantik seperti penggambaran dirinya tersebut? Apakah 'kualitasnya' sebagus yang dia ceritakan? Relatif sebenarnya, tapi yang pasti dia pelit! Dia tidak pernah menraktir saya :p

"Saklek kamu, Dev. Apa susahnya sih bilang kalau dia cantik?" Itu pendapat Momz, ketika saya bercerita tentang teman kedua saya.
"Tapi Mom, aku ga bisa boong."
"Jadi menurut kamu dia..." Momz diam.
"Huahahaha..." Tiba-tiba Momz tertawa di ujung telepon.
"Jahat kamu, Dev. Ga boleh gituh ah, dia kan anak orang juga."
"Makanya aku ga ngomong Mom. Aku juga kan ga bagus-bagus banget."
"Iyah, biasa aja yah Dev, ga usah lebay."

Mungkin teman kedua saya terlalu banyak mendengarkan Beautiful nya Christina Aguilera. Ga ada salahnya sih sebagai 'self booster', asal jangan keterusan aja, jadi ga liat-liat sekeliling :)

"Peduli amat pendapat orang, toh gua CANTIK!" Terus-terang bosen gua. Yeah, kill me baybeh.




Catatan untuk Devina, ternyata batas pertemanannya diukur berdasarkan urusan traktir-menraktir. Traktir dia segelas kopi, maka dia tidak akan berkomentar macam-macam :D

Jumat, 17 Juni 2011

Selera Nusantara*

Setahu saya, Kota Jakarta hanya satu di Indonesia (sebentar, saya googling dulu)... Sepertinya sama, semuanya menunjuk ke Jakarta, ibukota Indonesia. Tapi dari cerita teman-teman saya, sepertinya Jakarta yang kita tempati itu berbeda. Di Jakarta saya bisa menemukan hampir segalanya, tergantung permintaan dan harga.

Jakarta, di sana saya bisa bertemu roti tawar empuk kesukaan saya. Ada tiramisu ‘asli’ (baca: original) yang mantab rasanya, bukan dengan krim buatan dan sponge-cake yang keras. Saya bisa dengan puas makan kue basah khas Indonesia yang beraneka ragam. Bertemu lagi dengan berpuluh-puluh (atau ratusan?) resto Jepang yang bisa dibilang lebih autentik rasanya dibanding di sini.

Yah, balik lagi ke masalah selera masing-masing individu. Mungkin sayanya saja yang tidak begitu cocok dengan masakan khas Sichuan yang rasanya didominasi oleh pedas, pedas dan pedas. Biasanya diakhiri dengan rasa ‘baal’ (numbness, mati rasa) di area sekitar bibir dan lidah. Masakan khas Sichuan yang saya coba di Jakarta rasanya agak beda dengan yang di sini. Awal-awal saya tinggal di sini, saya belum terbiasa dengan masakan khas sini yang penuh dengan cabai, lada Sichuan (Sichuan peppercorn, duh bahkan kota ini punya ‘lada’ nya sendiri, atau andaliman dalam bahasa Indonesia), star anise (adas dalam bahasa Indonesia) dan minyak! Sekitar 2-3 minggu saya baru terbiasa, dengan artian mulut dan sistem pencernaan saya bisa menerima, tanpa rasa aneh dan diare : p

Entah, saya masih lebih memilih rasa masakan Padang yang pedas ketimbang masakan sini. “Itu beda! Rasanya beda, ga bisa disamaain.” Pasti teman saya ramai-ramai menangkis pernyataan saya itu : )


Bean Curd Special


Spicy mapo doufu or mapo tofu, one of Sichuan's speciality.

鸡蛋锅饼


Gorengan khas Chongqing : )

Chinese Mashed Potato


Chinese mashed potato with a lot of chili sauce.




* Jadi inget Rudy Choirudin, apa kabarnya yah? : ) ( http://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/10113-rudy-choirudin-ingin-menjadi-kiblat-masakan-nusantara.html )
** Dan ternyata, Chengdu, salah satu kota di provinsi Sichuan terpilih menjadi 'City of Gastronomy' dari seluruh dunia oleh UNESCO! (sumber: http://unesdoc.unesco.org/images/0019/001920/192047e.pdf )

Rabu, 15 Juni 2011

Women


Lama-lama berada di antara orang-orang hebat, membuat saya berkecil hati. Teman perempuan saya cantik-cantik, penuh percaya diri dan pintar. Sudah bukan jamannya lagi pemikiran bahwa perempuan berpenampilan menarik belum tentu pintar dan cerdas. Nyatanya teman-teman saya serba sempurna. Apalagi teman-teman pria saya, mereka ganteng, cerdas dan kaya (penting katanya).

Sebagian besar teman-teman perempuan saya sudah mantap, yakin dan nyaman dengan tubuh dan penampilannya. Sedangkan saya masih shock dan bingung dengan pertumbuhan dan perubahan yang terjadi. Hahaha. Mungkin beberapa teman perempuan saya akan bilang “Belagu loe Dev, umur udah bukan remaja aja, masih berasa tumbuh.”

Saya bingung bagaimana harus menyikapi bagian-bagian tubuh yang ‘berkembang’ itu. Burka mungkin bisa dijadikan pilihan, setidaknya semua bagian tubuh bisa tertutup dengan baik. Tapi bagaimana nasib wajah saya? Bukankah aneh kalau hanya bagian pundak ke bawah yang tertutup? Kebetulan beberapa teman perempuan saya ‘berani’ dalam berpenampilan, tentu saja didukung dengan bentuk tubuh yang aduhai. Saya malah risih menampilkannya. Duh, malu rasanya. Hahaha.

“Cuih! Boong banget neh anak, biasa juga pake baju kaya ga pake baju, lebih banyak bagian yang keliatan ke mana-mana.” Hem, mungkin itu pendapat beberapa teman perempuan saya setelah membaca cerita ini. “Munafik! Pake bilang risih dan malu-malu segala.” Yah, yah, yah cacian itu mungkin juga terucap, dengan tawa sinis mereka. Maaf teman-teman, kalaupun saya berpakaian ‘seadanya’ itu karena faktor kebimbangan saya, bagian mana saja yang harus saya tutupi. Setelah berjam-jam mencoba berbagai jenis baju dan celana, akhirnya saya memutuskan: Duh, daripada bingung menutupi bagian-bagian tertentu, lebih baik sekalian dibuka! Ci-luk-ba!

Catatan untuk seorang teman pria yang beranggapan perempuan dengan dada-panggul-bokong berisi sama dengan gemuk, itu salah besar! Yah, mungkin selera orang beda-beda, Mas. Tapi mbok yah jangan semua perempuan dengan sedikit lemak lantas dibilang gemuk. Mungkin beberapa perempuan risih dengan ukuran dada atau panggul/ bokongnya yang sedikit di atas rata-rata, lantas dia menutupinya dengan pakaian serba kebesaran (seperti saya, huahaha, silahkan ditertawai pernyataan ini). Kami, perempuan-perempuan tidak ‘tercetak’ sama-rata seperti model-model di katalog itu. Masalah akan menjadi lebih rumit lagi, ketika perempuan-perempuan itu menjadi ibu : )

So, pria-pria ganteng teman-teman saya, ga usah banyak nuntut deh :p


sumber gambar: google art project, wikipedia.

Rabu, 18 Mei 2011

Na.. Na.. Na..

Ga suka diprotes yah? Ga suka dikritik yah? Pengecut. Narcissistic. Selalu menilai diri-sendiri terlalu rendah. Eh, kebalik yah? Hahaha. Hem, topik serius ini :p

Saya suka jalan-jalan, saya suka foto-foto. Apapun objek/ subjeknya, apapun sarana dan prasarananya. Hasilnya? Sebagian besar sih hanya dijadikan ‘jurnal’ untuk diri-sendiri. Oh, strata saya dalam dunia perfotoan jauh dari kata ‘profesional’ dan canggih. Saya juga berusaha untuk tidak mengaku-aku sebagai ‘fotografer’. Saya hanya suka foto, memfoto, untung-untung yah difoto. Kalau ada yang mau motoin. Hahaha.

Saya suka yang indah-indah. Wanita, pria, kucing ataupun anjing. Sesuatu yang indah haruskah cantik dan rupawan? Bagi saya belum tentu ;)

Engkoh-engkoh topless dengan perutnya yang bulat. Hem. Lucu. Hahaha. Bukan, bukan maksud saya menghina. Menurut saya itu ‘indah’, natural, apa adanya.

Please, untuk ‘dia’ siapapun itu. Entah ‘dia’ baca atau engga. Saya ga pernah ngaku-ngaku sebagai fotografer, dan saya tidak ahli. Kemampuan saya hanya rata-rata, skill adik saya saja masih jauh di atas saya. Seingat saya, saya tidak pernah mengkritik fotonya. Atau jangan-jangan, tanpa sengaja seorang sahabat bercerita padanya “Devina tuh ga suka hasil foto loe. Foto loe ga bagus, foto-foto yang loe ambil anglenya aneh, dan selalu aja pas dia lagi mangap.” Yah, apa boleh dikata Dev, pada dasarnya bentuk loe juga ga bagus-bagus amat kok. Hahaha.

Ketawa mulu loe, Dev. Mabok yah? Eh, engga kok. Puyeng iyah, masuk angin kayanya. Kebanyakan mangap yah? :D


Selingan

Momz: De.. Phi.. Na lagi apa? (Hem, belakangan ini saya menyadari, semakin umur saya bertambah (Ga berani bilang dewasa, karena dewasa itu relatif. Ga berani bilang tua, karena tua juga relatif, buat saya :D) sapaan dan panggilan ‘sayang’ Momz untuk saya semakin beragam, salah-satunya yah mengeja nama saya secara lambat-lambat tadi.
Saya: Lagi makan Mam.
Momz: Ah?! Kamu lagi makan?!
Saya: Iyah Mam, emangnya kenapa Mam?
Momz: Tumben kamu makan, setau Mama kamu ga pernah makan.

Yah ampun Mama! Dia yang melahirkan dan membesarkan saya, masa sampai sekarang Momz ga tau kalau saya, anaknya ini, adalah manusia normal yang butuh makan untuk hidup! :D

Momz: Kasian anakku, di sana panas banget yah? (Tuh kan, perasaan dulu jarang banget Momz menyebut saya sebagai anaknya. Hahaha).
Saya: Yah, udah lumayan lah Mam, tiga puluh derajatan.
Momz: Tumben kamu ga berenang. Biasa berenang terus tiap hari.
Saya: Belom sempet Mam.
Momz: Yah, kapan kamu ninggiinnya kalo gituh.

Momz, anakmu ini sudah bukan ABG yang masih dalam masa pertumbuhan! Ck, ck, ck. Kira-kira berapa yah usia saya dalam benak si Mama?

Senin, 02 Mei 2011

Ini Inu


Masih tentang si Inu, dari cerita sebelumnya. Mungkin si Mama sendiri sudah lupa tentang kejadian itu, tapi entah mengapa si Inu terus beredar di benak saya. Dulu, dulu sekali ketika saya masih SMP, beberapa orang teman pernah berkomentar tentang 'kesombongan' si Inu. Seingat saya, Inu baru pindah ke SMP yang sama dengan saya pada tahun ke 2, kepindahannya sempat menjadi 'buah bibir' di sekolah. Sayapun penasaran dengan si 'anak baru' ini, berniat kenalan langsung, yah paling tidak saya tahu 'bentuk' nya seperti apa. Tanpa malu-malu kucing, sayapun mendatangi teman saya yang kebetulan sekelas dengan dia. Nah, dari teman saya inilah, saya tahu kalau Inu tipikal anak yang 'sombong'.

"Iyah Na, belom apa-apa udah cerita kalo sodara-sodaranya tinggal di luar
negeri." Begitu cerita teman saya.
"Terus katanya, tas yang dia pake sekarang oleh-oleh dari Tantenya yang tinggal di Amerika."
"Elo yakin mau kenalan sama dia Na?" Teman saya menatap aneh.
"Haruslah Ta, gue kan anak gaul. Gue harus kenal semua orang di sekolah ini, Ta. Hahaha." Geli sendiri saya mengakuinya :D

Tapi sayangnya sampai beberapa bulan kemudian saya tidak pernah bisa bertemu langsung dengan Inu, paling-paling saya melihatnya sekilas. Sayapun akhirnya lupa dengan niatan saya berkenalan langsung, dan Inu pun sudah bukan lagi 'anak baru' di sekolah saya.

"Ta, gue mau nagih uang APP* kelas loe nih. Berapa?" Yup, Tata memang bendahara kelas dan saya, bisa ditebak, di jaman itu sayalah 'debt collector' nya. Hahaha. Bukanlah, kebetulan waktu SMP saya menjabat sebagai bendahara OSIS :) Ketika saya sedang menunggu Tata di depan pintu kelasnya (waktu istirahat pertama), tiba-tiba tuing-tuing-tuing si Inu melintas di depan saya, entah dari mana.

"Hai, Inu yah?" Sayapun mengulurkan tangan, bersiap-siap mejabat tanganya(resmi bener Dev).
"Iyah, Devina kan?" Si Inupun menjabat tangan saya, dan anehnya dia tahu saya!
"Kok tahu?"
"Mamaku itu temen SMA mama kamu Dev, terus Rudi itu sepupuku." Malu-malu si Inu menjelaskan (bukan imajinasi gue yah, Inu emang ngomongnya sambil nunduk-nunduk gituh, suaranya pelan banget. Terus berhubung dia putih, mukanya bener-bener keliatan bersemu merah gituh, wuih).
"Terus kok bisa tahu aku?"
"Mamaku sama mamanya Rudi suka cerita tentang kamu."
"Oh.."
"Nih, sepuluh rebu lima ratus!" Tiba-tiba Tata menyodorkan 'segepok' uang dan selembar kertas. Sayapun segera menuliskannya di buku bendahara dan menanda-tangani kertas yang disodorkan Tata.
"Makasih Ta.." Dan Inu pun menghilang, maksudnya dari hadapan saya, masuk ke kelas dan sibuk ngobrol dengan teman-temannya.

Rudi itu siapa sih? Saya kenal dia sejak SD, mamanya adalah teman SD-SMP-SMA mama saya. Walaupun kita bukan teman dekat, tapi lingkungan rumah dan sekolah kita sama, yah mau ga mau sama-sama tahulah. Kok saya bisa tidak tahu tentang keberadaan Inu? Setelah saya tanya-tanya ke Mama, ternyata Inu adalah anak dari kakak mamanya Rudi, dan tinggalnya di Depok, bukan di Pasar Minggu (daerah rumah dan sekolah saya).

Apakah sejak perkenalan itu, saya dan Inu menjadi teman baik? Ehem, sayangnya engga. Seingat saya sejak saat itu saya tidak pernah lagi ngobrol sama Inu, paling-paling sekedar menyapa dan itu jarang, dan sayapun tidak pernah sekelas dengan Inu. Kenapa sih tiba-tiba saya bercerita tentang kisah 'ini'? Yah, karena tiba-tiba teringat saja, sekalian mengingat-ingat apakah saya pernah berbuat 'dosa' sama Inu, sampai-sampai Inu berani memastikan masa depan saya (dengan suramnya). Hahaha. Eits, ini bukan cerita saya kesemsem sama Inu yah, lagian saya masih 'normal', saya masih menyukai 'pria-pria cantik'. Huahaha. Bagaimana dengan Inu, 'normalkah' dia? Sepertinya 'normal', setahu saya kekasih Inu berjenis kelamin pria. Yakin Dev? Emang kamu pernah ngecek? Hem, ga beranilah. Bisa-bisa 'masa depan saya yang suram' berubah menjadi sesuatu yang lebih 'buram' dengan embel-embel perawan tua di belakangnya (Hua! Amit-amit jabang bayi, ketok-ketok meja tiga kali!). Seandainya 'Inu' membaca cerita ini, Devina cuma bercanda kok :D

*Aksi Puasa Pembangunan
**Inu itu perempuan, dan seperti biasa Rudi itu bukan nama sebenarnya :)

Senin, 11 April 2011

Premature Intimidation = Fear?




"Deph.." Nada merajuk Mama terdengar sendu di handphone saya.
"Iyah Mam?"
"Kemaren temen kamu si Inu dateng ke tempat Mama."
"Inu siapa, Mam?"
"Katanya dia temen SD ato SMP kamu."
"Hem, Inu yah Mam.." Berusaha mengingat-ingat.
"Cowo, Mam?"
"Bukan, cewe."
"Oh, oh, oh. Kayanya aku tau deh Mam. Anaknya manis, putih, rambutnya panjang, matanya sipit, ada lesung pipitnya, pipinya mulus yah?" Masih berusaha mengingat-ingat penampakan si Inu waktu SMP.
"Iyah, iyah, iyah. Itu. Persis kaya gituh. Hahaha." Si Mama tertawa.
"Ngapain dia ke tempat Mama?"
"Nawarin kredit apa gituh.."
"Kredit?"
"Iyah, Mama ga gituh dengerin. Katanya dia kerja di bank B sekarang, karena Mama salah satu nasabah bank B, makanya dia dateng ke tempat Mama."
"Oh, hebat yah Mam. Dunia ga seberapa luas ternyata. Hahaha."
"Masalahnya bukan itu Deph.." Nada suara Mama kembali menjadi sendu.
"Sombong banget dia Deph, terus dia nakut-nakutin Mama."
"Hah?! Dia bukan debt collector kan Mam?!"
"Huahahaha. Bukanlah. Lagian ngapain juga Mama ngutang-ngutang."
"Terus dia ngapain Mama?"
"Dia bilang masa depan kamu suram." Jegeger.
"Hah?! Dia bilang gituh Mam?" Jadi ikutan panas-dingin saya.
"Yah ga gituh, tapi dia bilang kamu ga akan bisa praktek di Indo." Eh?! Si Mama diam, sayapun ikutan diam.
"Dia dokter Mam?"
"Bukanlah! Kan Mama bilang dia orang bank." Yah, walaupun saya sudah tahu jawabannya, saya hanya ingin memastikan.
"Terus?"
"Iyah, sok tahu banget yah dia. Hahaha.." Hahaha, kali ini saya ikutan tertawa bersama Mama tapi 'deg-deg' an juga.
"Terus dia cerita tentang kerjaannya di bank, jabatannya lah, apalah.."
"Hahaha.. Pantes Mama ga inget dia nawarin apa yah Mam." Saya senyum-senyum sendiri jadinya.
"Iyah, Mama ga inget lagi dia nawarin apa, yang ada Mama malah kesel. Kok bisa-bisanya dia mutusin nasib kamu di Indo, mentang-mentang dia udah kerja dan berpenghasilan sendiri." Hihihi, lucu juga dengerin Mama ngedumel tapi yang 'didumelin' justru teman dan nasib saya.
"Aku sendiri aja ga tau yah Mam, nanti aku di Indo bakal gimana." Duh, SWT banget yah nasib saya :p
"Nah, itu dia Deph! Sok tau dia!"
"Terus Mama ambil kreditannya itu?"
"Dih, ngapain. Mama juga ga butuh-butuh amat, lagian duit siapa yang bakal dimasukin ke situ? Kamu?"
Hahaha. Kali ini saya tertawa miris. Duit? Sekolah aja belom selesai-selesai :p

Selasa, 05 April 2011

(Anak) Lelakiku

"Ini anakku yang pertama.." Bisiknya perlahan, samar-samar aku melihat wajah anaknya, sepertinya lelaki.
"Jagoanku.." Lagi dia berbisik perlahan, takut-takut dia membangunkan 'jagoannya'. Dia tersenyum, akupun membalas senyumnya, dalam tidurku.

'Kalau jadi pergi, jangan lupa untuk kembali lagi. Ingat rumah. Selalu hati-hati dan jangan lupa berdoa.' SMS terakhir darinya, jawaban dari SMS terakhir dariku. Setelah lama tidak tahu kabarnya, aku mencoba untuk menghubunginya lagi, hanya sekedar mengabarkan kalau aku akan kuliah ke luar negeri. Tidak ada maksud apa-apa. Dari sekian banyak teman dan kerabat, di saat-saat terakhir keberangkatanku, aku teringat dia.

"Nanti kalau kamu sudah benar-benar menjadi perempuan dewasa, berduit seperti Mamamu, pasti aku sudah menghilang entah ke mana."
"Kenapa harus menghilang?" Tanyaku polos.
"Karena tidak mungkin selamanya aku di sini." Dia tersenyum, tatapannya tetap lurus ke depan, lampu merahpun berganti hijau.
"Bukannya aku masih bisa SMS, telpon, atau kirim email?" Sepanjang jalan, aku berusaha menyerap sebanyak mungkin kenangan tentangnya, senyumannya yang sinis, jari-jari tangannya, matanya, suara tawanya, wanginya, semuanya.
"Oh yah?! Hahaha." Ah, itu dia kata-kata khasnya, ketika dia menyangsikan perkataanku, dibarengi alis matanya yang terangkat sebelah.
"Kalo nanti kamu kerja, dan gajimu sudah sebesar gajiku sekarang, jangan pernah lupakan hari ini." Senyum itu lagi.
"Kok kamu yakin kalo aku ga berniat nurunin usaha Mama?"
"Kamu mau?!" Tiba-tiba pandangannya beralih ke arahku dan diapun tergelak tertawa.
"Siapa tau!" Dengan sinis aku membalasnya, kali ini aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela, memperhatikan titik-titik air hujan yang membasahi jalan.
"Semoga banjir, dan kita terjebak di sini, tidak harus bergerak." Dia, seperti membaca pikiranku dan menyuarakan benakku. Akupun menunduk, mengamati rok seragam kucelku.
"Tapi.. Kalo nanti aku kebelet pipis gimana?" Aku menatapnya dengan serius.
"Huahaha. Dasar anak kecil! Ga bisa diajak romantis kamu!"
Yah, sayangnya perjalanan terus berlanjut, tanpa banjir dan tanpa macet.

Aw, sepotong kisah 'cerpen remaja' jaman baheula. Hahaha. Oiyah, 'dia' bukan supir saya yah, siapa tahu ada yang berkesimpulan ke sana :D


Senin, 21 Maret 2011

Sloppy Straw Hat

Wew, ternyata postingan terakhir saya, membuat saya berpikir lebih dalam lagi, dan itu melelahkan. Hahaha. Dan akhirnya saya berkesimpulan:

1. Belum tentu 'subjek penderita' yang saya ceritakan di sana mengalami kesan yang sama dengan saya. Siapa tahu dia malah termotivasi dan happy-happy saja, karena tahu ada teman-teman yang selalu memperhatikan dia, dan mengingatkannya untuk senantiasa sehat! Mungkin cerita saya malah 'annoying' buat dia, sok tahu saya! :p

2. 'Mulutmu (adalah) harimaumu', hati-hati kalau berbicara Dev, bisa-bisa kamu diterkam sama 'mulutmu' sendiri. 'Teman-teman' adalah teman-teman, mereka yang akan selalu mengingatkan kita kalau kita salah atau tersesat. Mereka yang akan membuat kita benar atau tambah keblinger. Koreksi, mereka bukan tukang 'bully' ;)

3. Mungkin, yah mungkin sifat saya tidak pernah bisa disiplin dalam hal apapun, termasuk berolah-raga, makan, berfoya-foya, waktu dan tentu saja BELAJAR! Belum sejalan dengan tingkat kedisiplinan mereka dalam hal apapun, khususnya kesehatan (individu). Dokter adalah panutan, dokter adalah 'model'. Yah, kalau tinggi badan Anda lebih dari 165 cm, berpenampilan menarik, berbody sintal, silahkan hubungi agen bakat terdekat :p

4. Ujung-ujungnya saya yang menjadi 'musuh' bukan teman bagi dia dan teman-temannya, seorang outsider tidak tahu diri. Ketemu belum tentu sebulan sekali, tidak pernah peduli akan masalah mereka, tahu juga engga kabar tentang mereka. Outsider yang hanya sesekali mendengar dan berkesimpulan salah.

5. "Pantat loe makan tempat banget sih, geser dikit napa!" Maaf Tuan, pantat saya memang segini dan tidak bisa dilipat. Bagaimana kalau Tuan saya pangku? Sekalian lap dancing deh. Eh?!

Kebanyakan komentar 'sinis' tentang berat badan, penampilan, status, dsb nya itu memang dikemukakan oleh kaum adam. Hah?! Yup, kalau teman perempuan masih bisa saya toleransi. Mengapa, oh, mengapa pria-pria itu lebih sadar penampilan dibanding kami-kami, kaum hawa tak berdaya ini?

6. Kesimpulan no. 5 di atas, menimbulkan masalah baru buat saya. "Wajarlah, ga ada cowo yang tertarik sama dia. Ck, ck, ck." Decak kasihan Tuan-Tuan Tampan disertai tatapan iba dan gelengan kepala. "Mending cakep, udah gitu kalo cerita ga jelas ujungnya, membosankan, sinis pula!"

7. Btw, kesimpulan no. 5 dan no. 6 di atas agak OOT kayanya :D

Maaf Tuan-Tuan Tampan nan sempurna, mungkin saya salah menjejakan kaki di planet Tuan. Mungkin, di planet lain di luar sana, ada jenis Tuan-Tuan yang berpendapat kalau saya 'ga jelek-jelek dan ga sinis-sinis' banget kok. Dari lubuk hati saya yang paling dalam saya meminta maaf dan mendoakan kebahagian untuk kalian, Tuan-Tuan Tampan yang baik hati beserta Tuan, Nona dan Nyonya pendamping. GBU bro' ;)





Saya menyimpan satu topi jerami berukuran lebar mirip ilustrasi di atas. Nope, saya belum sempat mengajaknya berlibur ke pantai, untuk menikmati tiupan angin semilir di antara deru ombak, jejeran pohon kelapa, dan gelitik pasir. Lalu? Saya dan adik-adik bergiliran mengenakannya, ketika sedang asyik nonton TV di kamar Mom. Saya dan adik-adik 'bergerombol' di satu ranjang, ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton TV dan bergantian mencomot sang topi dan memakainya. Score! Big smile! :D

Minggu, 20 Maret 2011

S A R A (B)*

"The Girl you just called fat? She's been starving herself & has lost 15kgs. The Boy you just called stupid? He has a learning disability & studies 4hrs a night. The Girl you just called ugly? She spends hours putting makeup on hoping people will like her. The Boy you just tripped? He is already abused enough at home. There's more to people than you think. Post this as your status if you're against bullying."

Beberapa teman saya mempostkannya di wall Facebook mereka beberapa hari yang lalu. Saya pernah 'gendut' dan sekarangpun saya masih sedikit 'chubby', keluarga saya besar-besar. Apakah saya perlu menyesali keadaan saya sekarang, karena saya 'besar'? Mungkin orang-orang beranggapan saya malas berolahraga dan beraktivitas, dan yups, dugaan mereka adalah benar adanya! Hahaha.

Berhubung teman-teman saya dari sananya 'kecil-kecil', mungkin mereka tidak merasakan bagaimana 'susahnya' menjadi besar. Argh, saya jadi sirik.

"Feb, Feb, Feb. Diet."
"Iyah Deph, ini juga lagi diet."

Berisik amat sih kalian! Pergi makan ke restoran, malah ribut ngomongin 'diet, berat badan, gendut, gendut'! Capek dengernya.

Beruntunglah kalian yang memang dari sananya kecil-kecil, ga perlu takut gendut dan mungkin memang ga ada bakat gendut sama sekali. Mestinya kalian bersyukur dan bukannya terus-menerus menyindir teman yang lebih 'berisi' dibanding kalian.

Teman-teman bisakah kalian tidak menyinggung masalah berat badan dan obesitas sebentar saja? Saya tahu dan menyadari kalau saya 'besar'. Tapi masa setiap kali kalian melihat saya, yang pertama kali muncul di benak kalian adalah kata obesitas, over weight, gendut? Yah, lama-lama saya merasa jadi tidak nyaman dan insecure kalau berada di tengah-tengah kalian.

"Gede banget sih loe."
"Porsi makan 3 orang loe abisin sendiri."
"Gila, ukuran lengan loe seukuran paha gue."

Dua sahabat saya adalah penderita bulimia dan mungkin anorexia juga. Apa perlu kita menambahkan satu sahabat lagi?

"Kalau bukan teman sendiri yang menghina, siapa lagi yang bakal menyadarkan kesalahan kita?"

Itu kata-katanya. Dia menyadari sindiran kalian sudah sampai batas 'hinaan' dan untungnya dia berbesar hati, dan menganggap kalian adalah teman-teman yang baik yang menyadarkan dia. Terlebih lagi dia menganggap sebagai kesalahnya sendiri. Duh, ngeri saya mendengarnya. Teman yang baik adalah teman yang mau menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing individu tanpa menjudge berapa sih berat badannya ;)

Terus terang saya takut dengan kalian, berapa kilo lagi berat badan yang harus dia susutkan? Dulu saya merasa 'fun' kalau jalan bersamanya, karena dia memang teman 'foodie' saya, mencoba-coba makanan dan minuman baru. Sekarang? Seperti seorang pasien dengan komplikasi jantung dan diabetes, makan ini tidak bisa, makan itu dilarang. Bukan salah siapa-siapa. Memang pilihannya untuk menjalani diet ketat seperti itu, dengan alasan kesehatan tentunya. Kita bisa mengundang dia makan, dia datang, kita makan, dia hanya minum. Bukan hanya sekali, berkali-kali.

Masalah berat badan adalah masalah yang sensitif, seperti SARA. Yah, teman-teman, seperti yang pernah kalian bahas 'SARAB': suku, agama, ras, antar golongan dan berat badan. Kalian sendiri yang membahasnya tapi kalian juga yang terus-menerus menyinggungnya.

Maaf teman-teman, saya memang pengecut karena saya tidak berani mengutarakannya secara langsung. Saya malah menuliskan cerita tidak jelas di sini. Saya takut dibilang tidak 'asyik' dan dianggap sirik dengan keadaan kalian. Saya diam.

Ingat teman-teman, tidak semua orang dilahirkan dengan sempurna, hargailah orang lain, terlebih teman kalian sendiri :)


sumber: www.allposters.com

*Istilah ini dicetuskan oleh beberapa teman saya di sini, seingat saya dr. Muzakkir (atau dr. Evan mungkin) yang menambahkan B di belakangnya :)

Kamis, 10 Maret 2011

Kopi Tubruk

“Mommy, do I need to tell them how much money did I spend on this wallet?” Duh, perasaan repot bener mo ngomong: Elo mau tau berapa 'harga' dompet gue? ;p

Semua yang loe bilang itu omong kosong, Dev! BULLS*IT! Cerita kok ngalor-ngidul ga karuan ujungnya. Kita ga butuh cerita tentang loe, bosen denger cerita-cerita tentang ‘kehebatan’ atau pengalaman-pengalaman loe yang biasa banget. Yah, yah, yah maaf deh teman-teman. Apa daya, seorang Devina adalah perempuan yang biasa banget, ga penting dan tidak layak disandingkan bersama kalian.

“Hey, kalian ada ide ga, tahun baruan kali ini kita mau ngapain?”
“Paling kaya biasa, kumpul-kumpul, makan-makan.”
“Ho oh. Tapi makan apa yah?”
“Cari cafe ato resto yang enak Dev.”
“Iyah, kalo bisa yang tempatnya enak buat ngobrol-ngobrol, makanannya bukan yang ecek-ecek gituh.”
“Seip, ntar gue cariin deh.”


“Gue suka kopi tapi liat-liat dulu lah, enak apa engganya.” Begitu pengakuan Pria*, teman baru saya.
“Iyah, iyah. Gue juga suka banget kopi! Elo suka kopi apa?” Antusias saya menjawab, karena selama ini teman-teman saya ga ada yang suka kopi.
“Nescafe.” Jawabnya singkat.
“Eh, elo suka kopi kan?” Tanya saya lebih lanjut.
“Iyah, tiap hari gue minum kopi.”
“Nescafenya itu kopi instant yah?”
“Iyah, tiap pagi gue harus minum itu. Gue ga suka Kapal Api ato apalah itu.”
“Ouh..” Kecewa saya mendengar jawaban teman saya itu.


Self centered. Yah, kalau-kalau mereka mau mendengarkan pendapat dan cerita saya. Masing-masing punya cerita sendiri, pendapat masing-masing dan akhir-akhirnya saya diam. Siapa juga yang mau mendengarkan cerita seorang tukang tipu yang sebenarnya ga bisa apa-apa :) Gusti, mengapa mereka begitu tinggi di atas sana? Susah rasanya untuk bisa sinkron dengan mereka. Pintar-pintar, cantik-cantik, dari kaum ‘berada’ pula. Bagaimana dengan kepribadian mereka? Sepertinya lebih baik dari saya yang selalu rendah diri dan iri hati, yang lebih bagus lagi, mereka mensyukuri sepenuhnya apa yang mereka punya. Sempurna! Hahaha.

“Teman, gue dah nemu nih cafe yang cocok buat tahun baruan kita.”
“Makanannya apa?”
“Chinese food, tapi enak kok.”
“Yah elah, ga ada yang lebih bagusan lagi? Chinese food kan gituh-gituh aja.”
“Oh, ada sih resto lain tapi tempatnya biasa aja.”
“Janganlah. Kalo ada tempatnya bagus, makanannya enak.”
“Oh, jadi inget! Ada satu lagi, tempatnya deket sini kok. Sekalian liat aja kalo gituh.”

Setelah 15 menit kita berjalan kaki, sampailah kita di resto yang dimaksud.

“Tempatnya bagus kan?” Deg-degan saya bertanya, takut tidak sesuai dengan standard mereka.
“Iyah, nyaman. Coba liat menunya dulu deh?”
“Makanannya enak loh, kalo bosen sama Chinese food, coba spaghetti aglio-olio nya deh. Emang sih makanan vegetarian, dan agak mahal tapi menurut gue bener-bener enak.” Takut-takut saya menunjuk gambaran sepiring spaghetti di buku menu yang disodorkan.
“Emang berapa?” Tanya seorang teman.
“Waktu itu sih sekitar 48 kuai**.”
“Hah?! Ini ga ada dagingnya kan yah?”
“Iyah, cuma spaghetti yang dimasak pake bawang putih sama olive oil.”
“Yah elah, itu gue juga bisa bikin sendiri di rumah, mending ke Pizza Hut sekalian.”

Bisa ditebakkan, di manakah akhirnya kita merayakan malam tahun baru bersama? ;)

“Pri, elo masih suka kopi kan yah? Ini, kebetulan gue dikirimin kopi. Elo coba deh.” Saya menyodorkan sebungkus plastik kecil berisikan 6 sendok kopi.
“Apaan neh? Ga ada merk nya gituh. Bukan jenis-jenis kopi tubruk gituh kan?”
“Kayanya sih bukan, gue juga blom nyoba. Temen gue belinya kiloan gituh. Elo coba aja dulu, ntar kasih tau gue rasanya gimana.”

Sesampainya saya di kamar, sayapun segera mencoba kopi yang baru saya ‘haluskan'. Saya membaui serbuk cokelat pekat itu, hem, bau rempah-rempah (tapi jenis apa yah?).

“Gimana Pri, kopinya manteb kan?” Penasaran saya bertanya pada Pria.
“Apanya yang manteb Dev?! Pahit banget! Udah gue tambah susu setengah gelas, rasanya tetep pahit. Terus ampasnya banyak banget. Untung loe ngasihnya dikit. ”
“Hah?! Emang gimana loe nyobanya?”
“Yah, gue seduh kaya bokap gue nyeduh kopi tubruk.”
“Oh, okeh. Elo bener-bener suka kopi kan yah Pri?”
“Iyah. Tapi gue ga suka kopi-kopi murah gituh.”


Cappuccino




Sender: Ria
Message: Dev, gimana kopinya? Enak ga? Gue beli pas lagi jalan-jalan ke Medan. Mahal euy, 120 rebu per kilo. Tapi gue langsung jatuh hati sama rasanya yang manteb itu! Makanya gue kirimin testernya ke elo ;)




*Bukan nama sebenarnya, tapi dia berjenis kelamin 'pria' :D Oiyah, Pria dan Ria adalah orang yang berbeda ;)
**mata uang China, bernilai sekitar 64.000 IDR

Tambahan: tulisan yang dibold, Devina yang ngomong ;)

Jumat, 04 Februari 2011

Women Being

Tante*, jadi perempuan ga usah munafik deh. Bilang aja kalo Tante juga pengen jadi perempuan yang menarik. Siapa sih yang ga pengen jadi perempuan cantik, langsing dan 'gaul'? Alasan itukah yang membuat Tante jadi super galak dan sinis terhadap saya?

Kata siapa 'nerd people' ga demen nge 'bully' orang? Mungkin yang lebih sering terjadi adalah 'beautiful people' (chasingnya doang) yang lebih suka mengejek dan meremehkan orang biasa. Yah, Sa yah? Eh, bukan maksud nyindir Aisa (seorang sahabat baik Devina), tapi gw juga pernah kok Sa, dibilang 'tampang loe jijikin banget' sama seorang temen kita Sa (curhat colongan ceritanya). Yah, mungkin maksudnya bercanda, tapi setelah dia ngomong begitu, gw dengan suksesnya menangis tersedu-sedu di kamar.

Tante memang pintar, berpengetahuan luas dan rasa percaya dirinya juga luar-biasa. Kalau saya berpendapat, dia akan menganggap saya 'sok tahu'. Saya sudah sering ke tempat itu, saya baru saja melihat peristiwa itu, saya adalah saksi mata dan saya yang mengalaminya sendiri. Tapi tampaknya jawaban Tante yang lebih tepat. Dan saya lebih memilih diam.

"Rambut indah"
"Jari lentik"
"Betis mulus"
"Feminine"

Itu pendapat Tante tentang dirinya sendiri, yang sering dia ucapkan kepada teman-teman di sekelilingnya. Pentingkah? Kalau misalnya saya bilang "Engga ah, kenyataannya tidak seindah yang dikatakannya." Bukankah kedudukan saya akan sama seperti teman saya, yang menyatakan sebuah kenyataan tentang saya dengan gamblangnya. Jijik! Dan sepertinya posisi sayapun tidak tepat, saya tidak 'indah'. Penampilan luar saya biasa saja, kalaupun satu saya ditaruh di antara seratus perempuan dalam satu ruangan, kalian pasti susah menemukan saya, saking biasanya saya :D Apalagi 'daleman' saya, maksudnya inner/ hati, yang ini lebih buruk rupa lagi. Kenapa? Yah, kalau hati saya cantik, saya ga akan bikin tulisan ini :p

The Heart



Yah elah teman, gw cuma pengen jadi diri gw sendiri. Ga usah sirik-sirikan gitulah. Dah kaya anak kecil aja, gw punya elo ga punya, terus elo kepengen juga, karena ga dikasih jadinya ngambek deh.


*tipikal tante-tante gituh deh, tapi bukan tante asli saya :p

Jumat, 28 Januari 2011

Art of Giving ;)

"Hey Mom, makasih nyah.." Nyah, nyah, nyah. Begitu suara tawa saya waktu itu.
"Kenapa?" Seperti biasa Momz menjawab dengan pertanyaan, dan saya yakin dia menjawabnya dengan senyum tertahan.
"Terima kasih karena kebiasaan Mom ngasih-ngasih barang, bantuan dan segala macemnya itu menular ke aku dan adik-adikku."
"Apa kebiasaan itu menjadi beban?" Lagi-lagi Momz bertanya.
"Kadang..." Jawab saya tertahan.
"Kamu ngasih orang dengan mengharapkan sesuatu yah?" Momz terkekeh di ujung sana.
"I-yah..." Jawab saya lemah.
"Apa?"
"Ucapan terima kasih."
"Emang ucapan terima kasih penting? Kalau Mama lebih memilih dikasih barang lagi, atau diganti uang. Hahaha." Kali ini Momz tertawa lepas.

---

"Devina mah ga usah dibayarin, yang ada dia yang harusnya bayarin kita. Hahaha.." Saran seorang sahabat.
"Oh, yah udah sekalian aja." Bukan maksud saya sombong, berhubung makanan yang kita makan 'ga mahal-mahal amat', masih lebih murah sedikit dibanding harga satu venti caffe latte di Starbucks, sekali-kali gpp lah :)
"Eh, becanda kok Dev. Tapi kalo emang beneran mau bayarin ga nolak juga sih Dev. Hahaha.."
---
"Gimana cara kita bedain orang yang bener-bener butuh ditolong sama orang yang pura-pura butuh pertolongan?" Tanya seorang sahabat.
"Yah.. Elo beneran mau nolong dia ga? Tergantung niat loe lah." Jawab saya.
"Emang siapa sih?" Tanya saya lagi.
"Itu.." Sahabat menunjuk ke arah seorang pengemis di tangga jembatan.
"Ya elah, mau nolongin orang mikirnya lama banget. Elo kalo jadi dokter jaga di emergency, pasien loe mati duluan!" Sahabat saya yang lain berjalan menghampiri kakek pengemis itu dan menaruh (selembar uang 5 yuan) di mangkok kaleng kakek pengemis itu.
"Yuk De.." Sahabat saya yang baik hati itupun memanggil saya untuk melanjutkan perjalanan.

Memberi, menolong, membantu, menyumbang sepertinya maknanya tidak sama, biar efeknya lebih terasa (dramatis) kegiatan-kegiatan itu sebaiknya ditujukan untuk kaum papa, orang yang benar-benar menderita sengsara. Pilihlah organisasi-organisasi kemanusiaan yang benar-benar menaungi mereka yang memang tidak mampu. Sayapun bingung, apa batasan ketidak-mampuan mereka? Mungkin seorang sahabat hanya akan memberikan pertolongan (dalam hal ini finansial) kepada orang yang benar-benar melarat, semelarat-laratnya. Kalau dia masih punya rumah walaupun kontrakan sepetak, dengan anak 4, dan masih mampu mencari uang dengan mengumpulkan sampah dan menjadi tukang parkir, yah.. Itu masih 'mampu' lah. Padahal ke 4 anaknya tidak bersekolah, tapikan mereka masih bisa makan, walaupun sehari sekali. Sayapun menjadi bertambah bingung, berarti kalau saya mau menyumbang saya harus memastikan dia benar-benar tidak punya apa-apa, dan sepertinya susah juga mencarinya. Satu-satu akan saya datangi kolong-kolong jembatan, satu-satu akan saya wawancara calon-calon penerima sumbangan saya, kalau perlu disertai alat deteksi kebohongan. Saya tidak suka dibohongi! Saya hanya mau membantu mereka yang benar-benar butuh! Saya tidak ingin bantuan saya menjadi sia-sia, untuk mereka orang-orang malas!

"Capek juga Mom, selalu memberi.."
"Eits! Berarti kamu mengharapkan balasan dong?" Belum selesai saya berbicara Momz sudah menyelak.
"Eh.."
"Kamu bilang, kamu capek selalu memberi berarti kamu berharap sekali-kali menerima sesuatu kan?" Momz berkesimpulan.
"Eh, iyah juga sih Mom."
"Mereka maksa kamu untuk memberi?" Momz bertanya.
"Enggalah!"
"Alasan kamu memberi?" Tanya Momz lagi.
"Aku seneng aja kalo ternyata mereka seneng sama barang yang aku kasih."
"Apa kamu butuh sesuatu dari mereka sebagai imbalan?"
"Engga.."
"Berarti udah cukupkan? Cukup sampai senyum dan senangnya mereka itu, toh kamu ga butuh apa-apa lagi."
"Tapi Dev, memberipun tidak bisa dipaksakan, kalo kamu lelah, yah berhenti. Kalo kamu ga niat, yah ga usah. Apalagi kalo kamu merasa tidak dihargai, yah ga usah terus-terusan memberi. Percuma, pemberian kamu itu malah akan menjadi beban untuk mereka, kan ga ada harganya."


The Arhat's Temple (罗汉寺庙)

Selasa, 11 Januari 2011

11/1/11

Just want to say "Happy 11.1.11 11:11" :p

Bamboo's Rule

Lead me in the right path, O LORD, or my enemies will conquer me. Make your way plain for me to follow (Psalm 5:8).

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)