Selasa, 27 April 2010

Envy Me (by Gucci)

Terdengar suara ketukan halus. Tok. Tok. Tok. Dia menunggu. Kami mendengarnya di antara percakapan riuh di dalam kamar ini. Terhentilah percakapan kami, Tuan Rumah pun berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuknya. Seberkas lampu kamar menerangi wajahnya di tengah gelapnya lorong. Sebentuk senyum tipis terbersit di bibirnya. Diam. Tuan Rumah mempersilahkan dia masuk dan bergabung bersama kami. “Halo” sapanya singkat diringi senyum tipis. Kekikukan tercipta. Percakapan kami terhenti. Sesaat kami lupa cerita apa yang membuat kami tertawa terbahak-bahak tadi. Udara di sekitar kami sepertinya mendadak berkurang. Sesak.

Dia adalah sahabat saya, teman saya, dan saya tidak membenci dia. Hanya saja keberadaannya membuat saya dan teman-teman lainnya merasa tidak nyaman. Dia yang duduk dalam diam, yang sesekali tersenyum mendengarkan cerita kami. Dia yang menantap kami dengan seksama, memperhatikan gerak dan tingkah-laku kami, seperti menghakimi dan menilai. Tatapan matanya membuat saya salah tingkah. Tatapannya seperti memilah-milah masa lalu kami, menyudutkan, mengejek dan mengadili kami. Sekali lagi, saya tidak membenci dia.

Kehadirannya menyedot semua perhatian kami, seperti lubang hitam tanpa dasar. Iya, hitam, seperti kegelapan malam dengan segala misteri di dalamnya. Kadang dia datang hanya dengan selendang dan kain, di lain waktu dia datang dengan kemewahannya. Apapun bentuknya, kami tidak merasa dia aneh, seperti itulah bentuknya. Pemahaman itu tidaklah membuat kami terbebas dari perasaan tertekan dan bersalah ini. Rasanya saya ingin berlari dan menghindarinya, menjauh darinya.

Di suatu kesempatan saya ‘terperangkap’ hanya berdua dengan dia. Di dalam ruangan yang ramai dengan suara tawa dan jeritan-jeritan melengking, dia diam. Saya menatapnya. Saya diam dan menatapnya. “Hai” dia menyapa saya dengan suaranya yang halus, seperti suara-suara ketukannya. Saya mendengarnya, sapaan singkatnya seperti denting halus genta kecil di antara gemuruh badai. Kesadaran saya akan keberadaannya menyedot semua kekuatan dan perhatian saya. Tatapan lurus matanya seperti pusaran beliung. Terhipnotis tatapannya, sayapun mulai bercerita. Terdengar suara tawa membahana dari satu sudut, entah di mana. Udara di sekitar kami tidak lagi menyesakan, saya bernafas dengan bebas. Hening, saya hanya mengingat senyumnya, tepukan halus tangannya di pundak saya, dan belaian lembutnya di sela-sela cerita-cerita saya. Kekuatan. “Pinjami saya kekuatan, agar saya bisa berdiri dan melangkah lagi” pinta saya kepadanya di akhir cerita saya.

Rabu, 21 April 2010

Love Never Felt So Good*

Suatu kebetulan Windows Media Player di laptop saya memutarkan lagu Love Never Felt So Good nya Michael Jackson, ketika saya sedang membaca ulang cerita-cerita dari blog lama saya. Sebuah pertanyaan muncul ketika saya membaca cerita-cerita dan komentar-komentar dari blog lama saya itu. Mengapa saya ‘buta’ pada saat itu? Mengapa saya tidak menyadari perasaan-perasaan itu 4-5 tahun lalu? Komentar-komentarnya (merujuk pada satu orang) jelas-jelas menunjukkan perhatian dan perasaannya. Sayangnya waktu tidak bisa diputar ulang. Terlambatkah? Ternyata tidak. Karena ceritanya tidak berakhir di antara cerita dan komentar dalam blog saja, dalam kehidupan nyata pun tercipta kisah-kisah yang lain. Namun, sayangnya berakhir sama, gayung tak bersambut, perasaan (baca: cintakah?) kami tidak sempat terjalin sampai saat ini. Padahal dari sekian banyak kisah manis dan pahit di antara kami, bahkan kekecewaan yang amat sangat darinya, dan air mata yang tak terlihat dari saya, perasaan ini berakhir biasa saja, datar, tanpa klimaks dan kata penutup yang layak. Kami diam dan berhenti.

Hei, hidup tidak seperti sinetron atau komik, yang kadang dibuat sesuai keinginan penonton dan pembaca. Ceritanya bisa berakhir indah atau tragis, bisa saja semua tokohnya meninggal akibat kecelakaan atau penyakit menular. Namun, tetap saja sama, penonton dan pembaca adalah orang ketiga yang tidak dapat berinteraksi langsung dengan pemain. Penonton itu sama seperti teman dan sahabat-sahabat saya, Mama saya, Mamanya, dan orang-orang di sekitar saya dan dia. Mereka melihat, mereka menyaksikan, mendengar cerita saya dan dia, mengomentari, menyarankan dan mengatur siasat. Namun, tetap saja bukan takdirnya, sehingga ke manapun kami melangkah jalannya tidak akan pernah bertemu. Kekecewaan menjadi akhir cerita Mama saya dan Mamanya, juga mungkin orang-orang di sekitar kami. Sedangkan saya dan dia? Terus-terang saya sedikit kecewa karena kata itu tidak pernah terucap dari mulut saya sampai saat ini. Saya belum sempat membalasnya, sampai akhirnya cerita-cerita lain mengaburkan perasaan itu. Ketika saya benar-benar mencintainya, dia mulai mencintai dia yang lain. Yah, kadang kesabaran manusia ada batasnya. Mungkin kita kurang berjuang dan berusaha. Saya dan dia kurang memperjuangkan apa yang kita rasakan pada saat itu. Menyerah sebelum memulai. Mungkinkah waktu yang mengaburkan semua perasaan itu? Untungnya masih meninggalkan kenangan dan cerita indah di hati (dan di blog) saya.

Never Ending Story




*)This song is performed by Michael Jackson.

Selasa, 13 April 2010

Fun Life

Kemarin, seorang sahabat menanyakan (via chatting) apa agama saya. Saya sempat terdiam sesaat. Kaget dan bingung. Sahabat saya ini, adalah sahabat lama, sahabat saya sejak kelas satu SMA. Baru kali ini dia terang-terangan menanyakan agama saya, kepercayaan saya. Akhirnya saya menjawab, agama saya adalah kehidupan. Jawaban yang bodoh, seperti menyuarakan kalau saya adalah seorang yang mencintai kehidupan fana belaka. Bukankah seperti itu adanya? Saya selalu bersenang-senang dalam hidup ini, entah apa yang bisa saya dapatkan darinya (hidup). Malu rasanya. Saya malu terhadap sahabat saya, yang memang telah mengalami banyak pengalaman hidup, baik yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Sedangkan saya? Anak manja yang tidak bisa apa-apa. Saya tidak akan membahas apa agama sahabat saya ini, tapi yang saya tahu dia adalah seorang yang taat, dan kebetulan dia memang dibesarkan dalam keluarga yang juga tidak menganggap remeh agamanya. Mereka beriman. Sedangkan saya dan keluarga dalam hal agama (kehidupan beragama) adalah TANDA TANYA BESAR. Saya dibesarkan dalam keluarga yang benar-benar bebas, terserah kami mau memilih apa, siapa dan bagaimana, asalkan kami bisa mempertanggung-jawabkan KEHIDUPAN kami. Dalam artian, kami tidak akan merugikan diri kami sendiri, keluarga, ataupun orang lain. Hasilnya adalah, saya dan adik-adik saya belum bisa memilih dan menentukan apa jalan hidup kami (agama).

Saya teringat dengan sebuah kejadian di saat saya SMA, kebetulan saya mengikuti ekstrakulikuler teater. Pada saat itu kami berencana untuk mengadakan pertujukan terbuka untuk umum. Kami mendatangkan seorang pelatih tari/ gerak dari luar lingkungan sekolah. Pentas kami ini merupakan kolaborasi dengan mahasiswa/i dari sebuah institut seni, mereka bertugas sebagai orang-orang belakang layar. Namun, untuk peran atau pemain, sepenuhnya diserahkan kepada kami. Di awal perkenalan, pelatih kami itu mengajarkan cara ‘berdoa’ yang benar-benar berbeda dengan kebiasaan kami (sekolah kami adalah sebuah sekolah wanita yang berada di bawah naungan kongregasi kesusteran). Bagaimana kami harus bersyukur dengan keadaan kami kepada ‘tuhan’ yang bukan ‘tuhan’ kami. Beberapa dari teman-teman saya merasa tidak nyaman dan aneh. Kami diminta berserah kepada suatu kekuatan yang kami anggap tidak ada dan meminta mereka (kekuatan) itu untuk mendukung kegiatan kami ini. Saya sendiri merasa aneh, bukankah gampang saja untuk mengatakan: Tuhan, kami bersyukur untuk semua ini. Tuhan, kami mohon restu dan bimbinganmu. Namun, kenapa pelatih kami ini harus berputar-putar untuk menyatakannya, ditambah lagi kami diharuskan untuk merentangkan tangan kami (sama sekali berbeda dengan kebiasaan kami).

Maaf sahabatku, sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi tentang agama. Walaupun pada saat itu sahabat saya ini mengatakan kalau dia tidak membutuhkan seseorang yang bisa menjelaskan dengan benar tentang konsep agama, seperti layaknya pendeta atau pastur, bahkan kedua orang tuanya. Sahabat saya ini sedang berada di titik kebosanan, jenuh dengan segala kewajiban yang diharuskan agamanya. Berdoa sebagai suatu keharusan. Alasan itu yang membuat sahabat saya tiba-tiba menanyakan perihal ‘agama’ saya. Di titik inipun saya merasa kecewa pada kapasitas diri saya. Seharusnya saya menyarankan sesuatu, yang membuat teman saya ini tidak lagi bosan. Tetapi saya malah bercerita tentang drama (kemalangan) kehidupan saya. Lagi-lagi jawaban yang bodoh. Saya dengan sok religiusnya menjelaskan kalau hidup saya adalah doa saya. Jelas-jelas ini menyinggung perasaan sahabat saya. Kehidupannya tidak lebih ‘malang’ daripada keadaan saya, dan ketaatan nya jelas-jelas lebih dari saya, yang berdoa seadanya. Ini sama saja seperti seorang kafir mengajarkan agama kepada seorang imam besar. Berharap sahabat saya ini bisa menemukan kembali semangatnya, sesegera mungkin.

Puxian Bodhisattva At Mount Emei (普贤菩萨在峨眉山) with Peoples

Jumat, 09 April 2010

Rasa-rasanya ingin melarikan diri dari semua ini. Pergi. Menghilang. Tidak kembali lagi. Namun, di akhir pasti aku akan bertanya, setelah itu kamu mau apa? Menghindar dari jalan yang kamu pilih sendiri. Melarikan diri dari mimpi-mimpi masa kecil yang telah menjadi nyata. Lalu kamu mau apa? Bermimpi lagi tentang hal lain, yang kali ini bukan genuine mimpi, tapi khayalan, hanya pelarian, mimpi sementara yang memang indah. Yah, kenyataannya nanti juga akan sama, tidaklah selalu indah dan menarik. Lari lagi?

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)