Selasa, 13 April 2010

Fun Life

Kemarin, seorang sahabat menanyakan (via chatting) apa agama saya. Saya sempat terdiam sesaat. Kaget dan bingung. Sahabat saya ini, adalah sahabat lama, sahabat saya sejak kelas satu SMA. Baru kali ini dia terang-terangan menanyakan agama saya, kepercayaan saya. Akhirnya saya menjawab, agama saya adalah kehidupan. Jawaban yang bodoh, seperti menyuarakan kalau saya adalah seorang yang mencintai kehidupan fana belaka. Bukankah seperti itu adanya? Saya selalu bersenang-senang dalam hidup ini, entah apa yang bisa saya dapatkan darinya (hidup). Malu rasanya. Saya malu terhadap sahabat saya, yang memang telah mengalami banyak pengalaman hidup, baik yang menyenangkan dan kurang menyenangkan. Sedangkan saya? Anak manja yang tidak bisa apa-apa. Saya tidak akan membahas apa agama sahabat saya ini, tapi yang saya tahu dia adalah seorang yang taat, dan kebetulan dia memang dibesarkan dalam keluarga yang juga tidak menganggap remeh agamanya. Mereka beriman. Sedangkan saya dan keluarga dalam hal agama (kehidupan beragama) adalah TANDA TANYA BESAR. Saya dibesarkan dalam keluarga yang benar-benar bebas, terserah kami mau memilih apa, siapa dan bagaimana, asalkan kami bisa mempertanggung-jawabkan KEHIDUPAN kami. Dalam artian, kami tidak akan merugikan diri kami sendiri, keluarga, ataupun orang lain. Hasilnya adalah, saya dan adik-adik saya belum bisa memilih dan menentukan apa jalan hidup kami (agama).

Saya teringat dengan sebuah kejadian di saat saya SMA, kebetulan saya mengikuti ekstrakulikuler teater. Pada saat itu kami berencana untuk mengadakan pertujukan terbuka untuk umum. Kami mendatangkan seorang pelatih tari/ gerak dari luar lingkungan sekolah. Pentas kami ini merupakan kolaborasi dengan mahasiswa/i dari sebuah institut seni, mereka bertugas sebagai orang-orang belakang layar. Namun, untuk peran atau pemain, sepenuhnya diserahkan kepada kami. Di awal perkenalan, pelatih kami itu mengajarkan cara ‘berdoa’ yang benar-benar berbeda dengan kebiasaan kami (sekolah kami adalah sebuah sekolah wanita yang berada di bawah naungan kongregasi kesusteran). Bagaimana kami harus bersyukur dengan keadaan kami kepada ‘tuhan’ yang bukan ‘tuhan’ kami. Beberapa dari teman-teman saya merasa tidak nyaman dan aneh. Kami diminta berserah kepada suatu kekuatan yang kami anggap tidak ada dan meminta mereka (kekuatan) itu untuk mendukung kegiatan kami ini. Saya sendiri merasa aneh, bukankah gampang saja untuk mengatakan: Tuhan, kami bersyukur untuk semua ini. Tuhan, kami mohon restu dan bimbinganmu. Namun, kenapa pelatih kami ini harus berputar-putar untuk menyatakannya, ditambah lagi kami diharuskan untuk merentangkan tangan kami (sama sekali berbeda dengan kebiasaan kami).

Maaf sahabatku, sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi tentang agama. Walaupun pada saat itu sahabat saya ini mengatakan kalau dia tidak membutuhkan seseorang yang bisa menjelaskan dengan benar tentang konsep agama, seperti layaknya pendeta atau pastur, bahkan kedua orang tuanya. Sahabat saya ini sedang berada di titik kebosanan, jenuh dengan segala kewajiban yang diharuskan agamanya. Berdoa sebagai suatu keharusan. Alasan itu yang membuat sahabat saya tiba-tiba menanyakan perihal ‘agama’ saya. Di titik inipun saya merasa kecewa pada kapasitas diri saya. Seharusnya saya menyarankan sesuatu, yang membuat teman saya ini tidak lagi bosan. Tetapi saya malah bercerita tentang drama (kemalangan) kehidupan saya. Lagi-lagi jawaban yang bodoh. Saya dengan sok religiusnya menjelaskan kalau hidup saya adalah doa saya. Jelas-jelas ini menyinggung perasaan sahabat saya. Kehidupannya tidak lebih ‘malang’ daripada keadaan saya, dan ketaatan nya jelas-jelas lebih dari saya, yang berdoa seadanya. Ini sama saja seperti seorang kafir mengajarkan agama kepada seorang imam besar. Berharap sahabat saya ini bisa menemukan kembali semangatnya, sesegera mungkin.

Puxian Bodhisattva At Mount Emei (普贤菩萨在峨眉山) with Peoples

3 komentar:

  1. Agama (tepatnya: keberagamaan) adalah satu hal, dan spiritualisme adalah hal lain. Kehidupan ini teramat kaya, sehingga kotak-kotak yang dibuat oleh manusia kadang menyesakkan bagi orang tertentu. :D

    BalasHapus
  2. Wow, ada yang komentar :D Intinya untuk saya sekarang ini adalah 'Love is My Religion' a song by Ziggy Marley. Lirik lagunya pas menggambarkan keadaan saya sekarang ;)

    BalasHapus
  3. Oiyah2, terima kasih untuk komentarnya (dan kunjungannya), saking excited nya ada yang baca, jadi lupa :))

    BalasHapus

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)