Rabu, 21 April 2010

Love Never Felt So Good*

Suatu kebetulan Windows Media Player di laptop saya memutarkan lagu Love Never Felt So Good nya Michael Jackson, ketika saya sedang membaca ulang cerita-cerita dari blog lama saya. Sebuah pertanyaan muncul ketika saya membaca cerita-cerita dan komentar-komentar dari blog lama saya itu. Mengapa saya ‘buta’ pada saat itu? Mengapa saya tidak menyadari perasaan-perasaan itu 4-5 tahun lalu? Komentar-komentarnya (merujuk pada satu orang) jelas-jelas menunjukkan perhatian dan perasaannya. Sayangnya waktu tidak bisa diputar ulang. Terlambatkah? Ternyata tidak. Karena ceritanya tidak berakhir di antara cerita dan komentar dalam blog saja, dalam kehidupan nyata pun tercipta kisah-kisah yang lain. Namun, sayangnya berakhir sama, gayung tak bersambut, perasaan (baca: cintakah?) kami tidak sempat terjalin sampai saat ini. Padahal dari sekian banyak kisah manis dan pahit di antara kami, bahkan kekecewaan yang amat sangat darinya, dan air mata yang tak terlihat dari saya, perasaan ini berakhir biasa saja, datar, tanpa klimaks dan kata penutup yang layak. Kami diam dan berhenti.

Hei, hidup tidak seperti sinetron atau komik, yang kadang dibuat sesuai keinginan penonton dan pembaca. Ceritanya bisa berakhir indah atau tragis, bisa saja semua tokohnya meninggal akibat kecelakaan atau penyakit menular. Namun, tetap saja sama, penonton dan pembaca adalah orang ketiga yang tidak dapat berinteraksi langsung dengan pemain. Penonton itu sama seperti teman dan sahabat-sahabat saya, Mama saya, Mamanya, dan orang-orang di sekitar saya dan dia. Mereka melihat, mereka menyaksikan, mendengar cerita saya dan dia, mengomentari, menyarankan dan mengatur siasat. Namun, tetap saja bukan takdirnya, sehingga ke manapun kami melangkah jalannya tidak akan pernah bertemu. Kekecewaan menjadi akhir cerita Mama saya dan Mamanya, juga mungkin orang-orang di sekitar kami. Sedangkan saya dan dia? Terus-terang saya sedikit kecewa karena kata itu tidak pernah terucap dari mulut saya sampai saat ini. Saya belum sempat membalasnya, sampai akhirnya cerita-cerita lain mengaburkan perasaan itu. Ketika saya benar-benar mencintainya, dia mulai mencintai dia yang lain. Yah, kadang kesabaran manusia ada batasnya. Mungkin kita kurang berjuang dan berusaha. Saya dan dia kurang memperjuangkan apa yang kita rasakan pada saat itu. Menyerah sebelum memulai. Mungkinkah waktu yang mengaburkan semua perasaan itu? Untungnya masih meninggalkan kenangan dan cerita indah di hati (dan di blog) saya.

Never Ending Story




*)This song is performed by Michael Jackson.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)