Kamis, 22 Juli 2010

Generation 'X'

Ternyata tidak semua orang tua bisa membicarakan urusan tumbuh-kembang anaknya dengan leluasa. Tidak semua ibu bisa berpendapat dengan bebas masalah tubuh dan pertumbuhan anak perempuannya yang sudah atau sedang beranjak dewasa. Beruntungnya kasus ini tidak menimpa saya dan Mama. Dia akan senang hati berkomentar, walaupun kadang tidak ditanya, dan kalaupun ditanya, komentarnya suka terlampau 'vulgar' untuk didengar. Dia menganggap komentar 'apa-adanya' itu sebagai privilege menjadi orang tua, khususnya seorang Ibu.

"Deph, Mama ga suka baju yang kamu pilih itu. Terlalu konservatif." Mama menunjuk cheongsam cokelat yang saya pegang.
"Mama lebih suka yang ini!" Tada! Mama menunjukkan sebuah gaun merah berbahan satin yang panjangnya mungkin tidak sampai selutut saya.
"Mam, kalo aku pake itu, Mama harus beliin aku satu baju lagi." Sayapun berjalan ke counter sebelah dan mengambil satu baju lagi.
"Kamu mau pake itu?!" Mata Mama membelalak dan tampak shock ketika melihat cardigan rajutan tebal panjang dan berwarna abu-abu yang saya pegang.
"Kamu pikir kita mau piknik di puncak apa? Di puncak aja ga sedingin itu. Becanda kamu!" Mama cepat-cepat mengambil cardigan itu dari tangan saya.
"Mbak tolong ini ditaruh lagi." Tanpa babibu Mama langsung menyerahkannya ke pramuniaga yang sedari tadi mengikuti kami.

Ada sebuah foto yang beredar di laman Facebook saya. Hahaha. Lagi-lagi saya membahas Facebook, maklum hidden proxy yang saya pakai sekarang sedang dalam kondisi prima, dalam artian semua foto bisa terlihat, saya bisa bebas berkomentar, dan yang terpenting akun Facebook saya bisa dibuka (termasuk situs blogspot ini). Tidak seperti biasanya, kadang bisa dibuka kadang tidak. Oiyah, kembali ke selembar foto yang beredar tadi, kali ini bukan foto-foto seronok seperti yang sebelum-sebelumnya. Bukan juga komentar-komentar iseng Om atau Tante kerabat. Hanya foto seorang teman dengan tata-rias lengkap dan gaun yang indah-menawan. Tampaknya hasil foto studio. Tidak dipungkiri di situ dia terlihat 'lebih' dari kesehariannya. Masalahnya bukan pada fotonya tapi pada komentar-komentarnya. Mungkin orang-orangnya, termasuk teman saya itu terlalu polos atau memang munafik yah? Hahaha. Dev, jadi orang kok sinis banget sih, ga bisa liat orang seneng apa?

Bayangkan Angelina Jolie atau Megan Fox (tadinya saya mau menuliskan Pamela Anderson, tapi kok 'kebesaran' yah) dengan gaun malam yang anggun, ujung gaunnya menjuntai sampai menyapu lantai. Berukuran pas badan, menonjolkan kemolekan tubuh mereka. Tidak ada yang seronok atau tidak sopan di sana, lengan merekapun terbalut bahan lembut gaun malam tadi. Namun, ada sesuatu yang mengintip di sana. Gaun tadi agak terbuka sedikit di bagian tengah-tengah dadanya. Sedikit.

"Kamu bukan anak Mama!" Itu kata-kata yang keluar dari mulut Mama ketika saya mencoba gaun merah yang disarankannya.
"Eh, kenapa Ma?" Agak risih sebenarnya, di dalam kamar pas berukuran kira-kira satu meter persegi itu, dengan cermin di ketiga sisinya, Mama mengamati saya dengan cermatnya.
"Kamu anak siapa sih? Anak pungut yah?!" Mama merajuk.
"Kok bisa beda yah?" Si Mama masih melanjutkan 'drama' nya, tiba-tiba tatapannya terfokus pada satu bagian, otomatis sayapun mengalihkan tatapan saya ke daerah sana, saya menunduk dan ooops. Tanpa disadari kedua tangan saya sudah menyilang di depan dada saya.
"Mama! Vulgar banget sih!" Hahaha. Mama tertawa terbahak-bahak.
"Sama-sama perempuan, ga masalah. Waktu kecil Mama juga yang mandiin kamu. Tidak ada rahasia di antara kita." Hahaha. Si Mama masih melanjutkan tawanya.
"Kalau punya Mama kaya punyamu, setiap hari Mama pakai baju yang kaya gituh terus deh. Sayang tau menyia-nyiakan karunia Tuhan." Uhuk, Tuhan itu adil yah Mam.

Bagaimana dengan nasib teman saya tadi? Kebetulan Mamanya tidak 'seterbuka' Mama saya, dan untungnya lagi Mamanya tidak punya akun Facebook. Kalau tidak, ini yang akan terjadi:

"Kenapa Mama suruh kamu hapus foto ini? Lihat tampang kamu di sana, tampang penuh birahi! Dan coba kamu lihat itu belahan dada. Apa kira-kira pendapat manusia-manusia pervert di luar sana?"

Manusia-manusia pervert? Termasuk saya dan Mama saya dong yah? Hahaha. Eh, engga juga, kami hanya sekedar berkomentar tentang apa yang kami lihat, hanya sebatas itu. Sepertinya Mama juga tidak akan menyuruh saya menghapus foto itu, seandainya saya berpose seperti teman saya. Dengan mata setengah terpejam, bibir setengah terbuka, dan dada yang juga setengah terlihat, terkesan sendu namun menggoda. Sensual euy. Uhuy! (stop Dev). Ehem, Beliau tahu saya sudah dewasa, semestinya saya menyadari konsekuensinya apabila saya menaruh foto-foto di Facebook tanpa setting private. Untungnya teman-teman dan ibu teman saya itu masih malu-malu berkomentar. Jadi yang ada cuma "Wow!" dan "Bagus!". Kalau saya (mungkin) tidak berani menaruh foto yang mengumbar 'keseksian' saya di sana. Takut Mama dan adik-adik berkomentar yang tidak-tidak. Hahaha.


Bangga dong jadi wanita! -> Kalimat pembelaan :p
Picture by Wikipedia

1 komentar:

  1. hahahahahahahahahahahaha hahahahahahahahahahahahahahaha
    hahahahahahahahahahahaha hahahahahahahahahahahahahahaha

    UHUK..!!!HOOOOOOOOOEEKKK…!!!HOEK..!JRUOT!JROT!ASU..!

    BalasHapus

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)