Selasa, 18 Mei 2010

Happy People

"Sowan kepada Tuan Puteri tercinta, terimalah sembah sujud kami rakyat jelata yang serba biasa (dan tidak hina) ini. Jayalah Tuan Puteri yang mulia!" Hahaha. Begitulah 'aura' yang diberikan seorang sahabat saya ketika dia berada di sekitaran. Tuan Puteri sedang berbahagia, hatinya berbunga-bunga. Sang pujaan hati akhirnya datang dan meminangnya. Hahaha. Terinspirasi dongeng Cinderella tapi tanpa sepatu kaca. Sayangnya, sang pujaan hati bukan berasal dari kaum bangsawan tapi dari golongan yang sama dengan kami, rakyat biasa.

"Dev tau ga kalau Puteri udah dapet cowo baru?" A bertanya tiba-tiba.
"Ga tau. Emangnya sekarang si Puteri jadi sama Pangeran dari mana A?" Agak penasaran juga saya, karena selama ini si Puteri selalu pamer kalau misalnya dia jadian sama seseorang.
"Bukan Pangeran sekarang Dev, dapetnya orang biasa, tanpa gelar dan embel-embel." A dan saya selalu membayangkan kalau Puteri nantinya akan menikah dengan seorang Pangeran dari negara tetangga (negeri Jiran kah?).
"Wah, kok tumben Puteri mau yah A?"
"Iyah, tumben. Gua juga taunya ga sengaja Dev." Binar-binar excitement tampak jelas di mata A, sengaja dia tidak melanjutkan penjelasannya.
"Jadi?" Penasaran sayapun bertanya.
"Gua ga sengaja ngeliat mereka berdua belanja sayur di pasar." Pada saat itu juga, A dan saya baru balik dari pasar, membeli sayur.
"Loh, bukannya Puteri jarang masak yah? Lagian biasanya juga dia nyari makan di luar kan?" Semakin penasaran saya akan tingkah Puteri yang di luar kebiasaan itu. Setahu saya, kalaupun Puteri harus memasak, dia akan membeli bahan-bahannya di pasar swalayan bukan di pasar. Puteri ga suka bau pasar tradisional, yang kadang becek dan kotor lagi.
"Siapa tau itu pengaruh cowonya Dev. Kan biar irit kaya kita, makanya dia belanja di pasar. Hahaha." Dasar A, irit sih irit, si A mah lebih cenderung kikir.
"Dev, Dev, liat tuh." A menunjuk ke arah halte bus di depan asrama. Wah, Puteri tampak menggandeng seorang Pangeran lelaki asing. A dan saya saling berpandangan sejenak, berhubung saya dan A sudah berteman lama, sistem komunikasi via telepati kami pun terhubung dengan sangat baik. Saya langsung tahu, kalau si A pingin sekali memergoki Puteri, belum sempat saya mengutarakannya lewat kata-kata, A sudah menarik tangan saya menghampiri Puteri. Argh.
"Hai!" A sempat mencolek bahu Puteri untuk menyadarkan kalau A dan saya berada tepat di belakangnya. Sekilas A mencuri-curi pandang ke arah 'pangeran'. Kalau saya, setelah menyapa Puteri, saya langsung pura-pura sibuk memperhatikan kendaraan yang lewat. Ga enak.
"Tumben Put ketemu lo di halte, bukan biasanya elo naik taksi yah Put?" Celetuk A sambil memasang senyum lebar berbinar.
"Eh, engga juga ah. Biasa juga naik bis, pas elo ga liat aja kali." Puteri menjadi salah-tingkah. Dari sudut mata, saya melihat gerakan tiba-tiba Puteri melepaskan genggaman tangan 'pangeran'. Sepertinya A juga melihat aksi itu.
"Ah, ini siapa Put? Kok ga dikenalin ke kita-kita?" A langsung menembakan pertanyaan itu, pertanyaan tabu, karena jelas-jelas Puteri tidak ingin hubungannya diketahui khalayak ramai.

Akhirnya A dan saya tahu siapa jati diri si calon-pangeran-dari-golongan-rakyat-biasa itu, namanya Be (nama tetap disamarkan :D). Be itu 'manusia' biasa seperti saya dan A. Kami tidak terbiasa diikuti asisten pribadi (kalau pas kebetulan kita pulang kampung), diantar supir pribadi, dapat jatah uang jajan tak terbatas, dan segala kemewahan lainnya yang sulit kita bayangkan. Dengar-dengar papanya Puteri punya helikopter pribadi. Apakah lantas Puteri harus malu jatuh hati kepada Be, yang nyata-nyata bukan bangsawan (dan/atau hartawan)? Lalu kenapa Puteri harus menyembunyikan keberadaan Be dari kita-kita?

Catatan: Setting lokasi cerita saya, A dan Puteri pada cerita ini adalah di negeri antah-berantah yang jauh dari Tanah Air tercinta. Kalau ada kesamaan tokoh dan tempat, serta keanehan cerita dan situasi, harap maklum :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)