Jumat, 04 Februari 2011

Women Being

Tante*, jadi perempuan ga usah munafik deh. Bilang aja kalo Tante juga pengen jadi perempuan yang menarik. Siapa sih yang ga pengen jadi perempuan cantik, langsing dan 'gaul'? Alasan itukah yang membuat Tante jadi super galak dan sinis terhadap saya?

Kata siapa 'nerd people' ga demen nge 'bully' orang? Mungkin yang lebih sering terjadi adalah 'beautiful people' (chasingnya doang) yang lebih suka mengejek dan meremehkan orang biasa. Yah, Sa yah? Eh, bukan maksud nyindir Aisa (seorang sahabat baik Devina), tapi gw juga pernah kok Sa, dibilang 'tampang loe jijikin banget' sama seorang temen kita Sa (curhat colongan ceritanya). Yah, mungkin maksudnya bercanda, tapi setelah dia ngomong begitu, gw dengan suksesnya menangis tersedu-sedu di kamar.

Tante memang pintar, berpengetahuan luas dan rasa percaya dirinya juga luar-biasa. Kalau saya berpendapat, dia akan menganggap saya 'sok tahu'. Saya sudah sering ke tempat itu, saya baru saja melihat peristiwa itu, saya adalah saksi mata dan saya yang mengalaminya sendiri. Tapi tampaknya jawaban Tante yang lebih tepat. Dan saya lebih memilih diam.

"Rambut indah"
"Jari lentik"
"Betis mulus"
"Feminine"

Itu pendapat Tante tentang dirinya sendiri, yang sering dia ucapkan kepada teman-teman di sekelilingnya. Pentingkah? Kalau misalnya saya bilang "Engga ah, kenyataannya tidak seindah yang dikatakannya." Bukankah kedudukan saya akan sama seperti teman saya, yang menyatakan sebuah kenyataan tentang saya dengan gamblangnya. Jijik! Dan sepertinya posisi sayapun tidak tepat, saya tidak 'indah'. Penampilan luar saya biasa saja, kalaupun satu saya ditaruh di antara seratus perempuan dalam satu ruangan, kalian pasti susah menemukan saya, saking biasanya saya :D Apalagi 'daleman' saya, maksudnya inner/ hati, yang ini lebih buruk rupa lagi. Kenapa? Yah, kalau hati saya cantik, saya ga akan bikin tulisan ini :p

The Heart



Yah elah teman, gw cuma pengen jadi diri gw sendiri. Ga usah sirik-sirikan gitulah. Dah kaya anak kecil aja, gw punya elo ga punya, terus elo kepengen juga, karena ga dikasih jadinya ngambek deh.


*tipikal tante-tante gituh deh, tapi bukan tante asli saya :p

3 komentar:

  1. Ini mengingatkan gw ke tulisannya si Samuel Mulia. Yang kolumnis di kompas itu setiap hari Minggu tentang fashion/gaya hidup/filosofi. Sedikit sih, gak semua. :) Hehehe. Gw pernah lihat orangnya pas beli buku di Kinokuniya tapi dia sadis seperti di tulisannya gak ya, Deph? Hahaha.

    BalasHapus
  2. Iyah Sa, ilang ke mana yah serialnya itu? Gw juga ga pernah menyangka kalo apa yang diceritain sama si Om Samuel itu (huahaha, berasa kenal) bakal terjadi dalam dunia gw juga. Hem, mungkin waktu dulu gw baca, emang blom sesuai dengan target umurnya yah, Sa :)

    Menurut loe, gw sadis ga Sa? Huahaha. Nah loh :p

    BalasHapus
  3. Masih ada koq di Kompas. Hahaha. Bukan yang itu yang gw maksud, Deph. "Kesadisan" om Samuel Mulia itu karena dia lah tokoh antagonist-nya (yang sudah bertobat sekarang). Kita kan pihak, um, protagonist-nya. Iya gak ya? Haha.

    BalasHapus

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)