Selasa, 03 November 2009

Unconditional

A: "Kamu butuh apa?"
a: "Saya tidak butuh apa-apa."
A: "Coba dipikir-pikir lagi, kebetulan saya punya banyak barang yang akan dibuang."
a: "Yakin, saya tidak butuh apa-apa."
A: "Bukankah kamu butuh terang?"
a: "Iya, saya butuh terang tapi saya sudah punya."
A: "Tambahkan saja."
a: "Terserah kamulah."

Terang itu tidak saya dapatkan sampai saat ini. Entah apa yang ada di dalam benak A ketika dia menawarkannya kepada saya. Bukan hanya terang, juga arah, dasar, tujuan dan lain sebagainya. Dia hanya sekedar menawarkan, basa-basikah? Kalau memang ingin memberi, berikan saja langsung. Oh, saya lupa A pernah memberikan barang secara langsung kepada saya, tanpa ba-bi-bu, tanpa menunda-nunda dan akhirnya lupa.

A: "Nih, gw udah ga butuh." Disodorkannya sebuah sepeda tanpa roda depan kepada saya. Setahu saya, kota ini tidak memungkinkan kita untuk bersepeda dengan bebas, lalu-lintasnya terlalu ramai, penuh sesak dengan bus-bus besar, selain itu kontur tanahnya juga naik-turun. Apakah saya butuh sepeda?

Oiyah, saya lupa (lagi), A juga pernah memberikan 3 bungkus mie instant dengan cuma-cuma.

A: "Kebanyakan belinya, waktu itu diskon."
a: "Kok ga diabisin aja?"
A: "Engga ah, rasanya aneh. Cobain aja."

Saya pun dengan terpaksa menerima sumbangan mie instant tersebut, sebenarnya saya juga tidak suka dengan mie instant. Ketika 3 bungkus mie instant itu sampai ke tangan saya, sontak saya bersin. Debu-debu itu menari-nari di depan mata saya. Saya perhatikan baik-baik bagian belakang kemasan mie instant tersebut. Argh. Apalah artinya 6 bulan lewat dari masa kadaluarsa mie instant dengan rasa aneh ini, apakah bisa menambahkan keanehan rasanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

cerminan (23) daily (10) filosofi (1) fotografi (3) fragrance (3) jalan (5) khayal (10) musik (2) pandangan (4) photography (2) real (15) renungan (7) rumah sakit (6) santai (3) tuan puteri (2) waktu (6) weekend (6)